Teori Asosiasi Dari Thorndike

Teori Asosiasi Dari Thorndike

 http://math-succes.blogspot.com/

A.      Pengertian Asosiasi
Asosiasi ialah hubungan antara tanggapan yang satu dengan tanggapan yang lain dan saling memproduksi. Dalam aliran ilmu jiwa daya, hukum asosiasi itu berlaku. Hukum asosiasi ada 2 yakni mekanis dan logis. Mekanis ada hukum setempak dan berurutan. Logis ada dua hukum berlawanan dan bersamaan. Dalam mengenal hukum – hukum asosiasi itu sebenarnya karena cendrung pada pandangan ilmu jiwa modern yaitu bahwa hukum asosiasi bukan banyak seperti tersebut di atas tetapi hanya satu ialah hukum kontinuitas artinya tanggapan- tanggapan yang berdekatan atau berasosiasi, tanpa mengingat, serempak, berlawanan, atau berurutan. Asosiasi dipengaruhi oleh:
  1. keadaan jasmani seseorang
  2.  Tipe-tipe seseorang
  3.  Keperluan bereaksi terhadap perangsang

        (Ahmad&Widodo, 2004:24-26)


Para ahli yang mengikuti aliran asosiasi berpendapat bahwa pada hakikatnya perkembangan itu adalah proses asosiasi. Bagi para ahli yang mengikuti aliran ini yang primer adalah bagian – bagian, bagian – bagian ada lebih dulu, sedangkan keseluruhan ada lebih kemudian. Bagian – bagian itu terikat satu sama lain menjadi suatu keseluruhan oleh asosiasi. Jadi, misalnya bagaimana terbentuknya pengertian lonceng pada anak – anak, pertama anak – anak itu mendengar suara lonceng lalu memperoleh kesan pendengaran bagaimana tentang lonceng, kedua anak – anak itu melihat lonceng tersebut lalu mendapat kesan penglihatan (mengenai warna dan bentuk), ketiga anak – anak mempunyai kesan rabaan jika sekiranya mereka punya kesempatan untuk meraba lonceng tersebut. Dari ketiga bagian itu gambaran mengenai lonceng makin lama makin lengkap. Kesan – kesan secara asosiatif berhubungan satu sama lain. (Suryabrata, 2002:170-171)

B.      Teori Asosiasi dari Thorndike

Teori connectionism/Asosiasi adalah teori yang ditemukan dan dikemukakan dan dikembangkan oleh Edward L. Thorndike (1874/1949) berdasarkan ekperimen yang ia lakukan pada tahun 1890-an. Ekperimen Thorndike ini menggunakan hewan – hewan terutama kucing untuk mengetahui fenomena belajar. Kucing yang dipilih dalam ekperimen Thorndike ini adalah Seekor kucing yang masih muda yang kebiasaan – kebiasaannya masih belum kaku, dibiarkan lapar lalu ditempatkan dalam sangkar berbentuk kotak berjeruji yang dilengkapi dengan peralatan, seperti pengungkit, gerendel pintu, dan tali yang menghubungkan pengungkit dengan gerendel tersebut. Peralatan ini ditata sedemikan rupa sehingga memungkinkan kucing tersebut memperoleh makanan yang tersedia di depan sangkar tadi. Keadaan bagian dalam sangkar yang disebut puzzle box (peti teka – teki) itu merupakan situasi stimulus yang merangsang kucing untuk bereaksi melepaskan diri dan memperoleh makanan yang ada di muka pintu. Mula – mula kucing tersebut mengeong, mencakar, melompat, dan berlari – larian namun gagal membuka pintu untuk memperoleh makanan yang ada di depannya. Akhirnya entah bagaimana secara kebetulan kucing itu berhasil menekan pengungkit dan terbukalah pintu sangkar tersebut. Eksperimen puzzle box ini kemudian terkenal dengan nama instrumental conditioning. Artinya tingkah laku yang dipelajari berfungsi sebagai instrumental (penolong) untuk mencapai hasil atau ganjaran yang dikehendaki. Berdasarkan eksperimen tersebut, Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respons. Itulah sebabnya, teori koneksionisme juga disebut “S-R Bond Theory” dan “S-R Psychology of Learning” Di samping itu, teori ini juga terkenal dengan sebutan “Trial and Error Learning” (Belajar dengan uji coba). Istilah ini menunjuk pada panjangnya waktu atau banyaknya jumlah kekeliaruan dalam mencapai suatu tujuan. Thorndike menyebut waktu yang dibutuhkan hewan untuk memecahkan problem. Setiap kesempatan adalah usaha coba – coba dan upaya percobaan berhenti saat si hewan mendapatkan solusi yang benar. Dalam ekperimen dasar ini, Thorndike secarakonsisten mencatat bahwa waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah menurun secara sistematis seiring dengan berambahnya upaya percobaan yang dilakukan hewan artinya semakin banyak kesempatan yang dimiliki hewan semakin cepat ia akan memecahkan problem. Kemudian dengan mencatat penurunan gradual dalam waktu untuk mendapatkan solusi sebagai fungsi percobaan suksesif, Thorndike menyimpulkan bahwa belajar bersifat incremental(bertahap) bukan insightful (langsung ke pengertian). Dengan kata lain belajar dilakukan dalam langkah – langkah kecil yang sistematis bukan langsung melompat ke pengertian mendalam. 
Thorndike (Sujanto, 2004:122) menyimpulkan pula dari percobaan tersebut bahwa : (1)Binatang, belajar dengan trial and error; (2)Trial and error ini adalah merupakan asosiasi yang kuat untuk menimbulkan kembali gerak seperti yang lalu karena itu ia mudah menyesuaikan diri dengan masalah yang sama.
Kemudian ekperimen Thorndike didapati pula dua hal pokok yang mendorong timbulnya fenomena belajar. Pertama, keadaan kucing yang lapar. Seandainya kucing itu kenyang, sudah tentu tak akan berusaha keras untuk keluar. Bahkan barangkali ia akan tidur saja dalam puzzle box yang mengurungnya. Dengan kata lain, kucing itu tidak akan menampakan gejala belajar untuk ke luar. Sehubungan dengan hal ini, hamper dapat dipastikan bahwa motivasi (seperti rasa lapar) merupakan hal yang sangat vital dalam belajar. Kedua, tersedianya makanan di muka pintu puzzle box. Makanan itu merupakan efek positif atau memuaskan yang dicapai oleh respon dan kemudian menjadi dasar timbulnya hukum belajar. (Syah, 2007:105-106)

C.      Pandangan Thorndike Tentang Pendidikan
Thorndike percaya bahwa praktik pendidikan harus dipelajari secara ilmiah. Menurutnya ada hubungan erat antara pengetahuan proses belajar dengan praktik pengajaran. Jadi dia mengharapkan akan ditemukan lebih banyak lagi pengetahuan tentang hakikat belajar, semakin banyak pengetahuan yang dapat diaplikasikan untuk memperbaiki praktik pengajaran.
Di banyak tempat pemikiran Thorndike bertentangan dengan gagasan tradisional mengenai pendidikan; Thorndike juga menganggap rendah teknik pengajaran berbentuk ceramah perkuliahan yang saat itu populer (bahkan sampai sekarang):
“Menguliahi dan metode menunjukkan adalah pendekatan yang sangat terbatas karena guru tidak merangsang murid untuk mencari tahu lebih mendalam dari hal-hal yang diberitahukan atau ditunjukkan. Guru hanya memberi murid beberapa kesimpulan, yang berarti si guru percaya begitu saja bahwa para murid akan menggunakan kesimpulan itu untuk belajar lebih banyak lagi. Mereka hanya mewajibkan murid untuk memperhatikan, dan berusaha memahami sebaik-baiknya, persoalan-persoalan yang tidak berkaitan dengan diri murid. Mereka mengharuskan murid menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bukan berasal dari dirinya sendiri. Mereka memberi murid pendidikan seperti memberi uang sekehendak hati mereka sendiri”.
Dia juga mengatakan,
“Kesalahan paling umum dari sarjana, yang tidak berpengalaman dalam mengajar, adalah menganggap murid tahu hal-hal yang telah dikatakan kepada murid itu. Tetapi, memberi tahu adalah bukan bentuk pengajaran. Menyampaikan fakta yang ada di dalam pikiran seseorang merupakan dorongan alamiah ketika seseorang ingin orang lain mengetahui fakta itu,”

Dari pendapat tersebut maka Hergenhahn&Mathew (2008:76-78) menyimpulkan bahwa pengajaran yang baik pertama-tama mesti melibatkan pengetahuan atas semua hal yang akan diajarkan. Jika tidak tahu dengan pasti apa yang akan diajarkan maka tak akan tahu materi apa yang mesti diberikan, respons apa yang mesti dicari, dan kapan mesti mengaplikasikan penguatan.
Motivasi relatif tak penting, kecuali untuk menentukan apa yang merupakan “keadaan yang memuaskan” untuk pembelajar. Perilaku pembelajar (siswa) terutama ditentukan oleh penguat eksternal dan bukan oleh motivasi intrinsik. Penekanannya adalah untuk memicu pemberian respons yang benar kepada stimuli tertentu. Karenanya, ujian itu penting: ujian memberi umpan balik bagi pembelajar dan guru mengenai proses belajar. Jika siswa menguasai pelajaran dengan baik, mereka akan dengan cepat diperkuat. Jika siswa mempelajari sesuatu secara salah, kesalahan itu harus dikoreksi secepatnya. Jadi ujian atau tes harus dilakukan secara regular (berkala).
Situasi belajar harus sebisa mungkin dibuat menyerupai dunia riil. Seperti yang telah kita ketahui, Thorndike percaya bahwa proses belajar akan ditransfer dari ruang kelas ke lingkungan luar sepanjang dua situasi itu mirip. Mengajari siswa memecahkan problem sulit tidak selalu memperkaya kapasitas penalaran mereka. Karenanya, memberi pelajaran bahasa latin, matematika, atau logika hanya bisa dibenarkan apabila siswa akan memecahkan problem yang berkaitan dengan bahasa latin, matematika, dan logika saat nanti mereka sudah lulus sekolah.
                                                                        (Hergenhahn&Mathew, 2008:76-78)

D.      Penggunaan Teori Asosiasi dari Thorndike
Bentuk belajar yang khas baik pada hewan maupun pada manusia itu oleh Thurndike disifatkan sebagai “trial and eror learning” atau “learning by selecting and connecting”Organisme (pelajar, dalam ekperimen dipergunakan hewan juga) dihadapkan kepada situasi yang mengandung problem untuk dipecahkan; pelajar harus mencapai tujuan. Pelajar itu akan memilih respon yang tepat di antara berbagai respon yang mungkin dilakukan.
Sujanto (2004:123) mengatakan bahwa dalam proses berfikir manusiapun mempergunakan trial and error. Hanya karena manusia itu memiliki inteligindia maka manusia dapat bertrial and error dengan lebih cepat dan diam.  Ciri – ciri belajar dengan “trial and error” yaitu :
1.           Ada motif pendorong aktivitas
2.           Ada berbagai respon terhadap situasi
3.           Ada eliminasi respon-respon yang gagal/salah
4.           Ada kemajuan reaksi – reaksi mencapai tujuan
    (Dalyono, 2005:31)

Thorndike (dalam Hergenhahn&Mathew, 2008:64-65)  mengemukakan beberapa hukum belajar. Adapun hukum-hukum belajar tersebut antara lain:
1.    Law of Readiness (Hukum Kesiapan) 
Law of Readiness (Hukum Kesiapan) yang dikemukakan dalam bukunya yang berjudul The Original Nature of Man mengandung tiga bagian yang diringkas sebagai berikut:
·         Ketika seseorang siap untuk melakukan suatu tindakan, maka melakukannya akan memuaskan
·         Ketika seseorang siap untuk melakukan suatu tindakan, maka tidak melakukannya akan menjengkelkan
·         Ketika seseorang belum siap untuk melakukan suatu tindakan tetapi dipaksa melakukannya, maka melakukannya akan menjengkelkan.
2.    Law of Exercise (Hukum Latihan)
Hukum latihan (The Law Execise) atau prinsip use and disuse berisi apabila hubungan itu sering dilatih maka ia akan menjadi kuat (fized). Teori Thorndike mencakup hukum Law of exercise (Hukum Latihan), yang terdiri dari dua bagian:
·         Koneksi antara stimulus dan respons akan menguat saat keduanya dipakai. Dengan kata lain, melatih koneksi (hubungan) antara situasi yang menstimulasi dengan suatu respons akan memperkuat koneksi di antara keduanya.
·         Koneksi antara situasi dan respons akan melemah apabila praktik hubungan dihentikan.

3.    Law of Effect (Hukum Efek)
            Law of Effect (Hukum Efek), yang digagasnya sebelum tahun 1930, adalah penguatan atau pelemahan dari suatu koneksi antara stimulus dan respon sebagai akibat dari konsekuensi dari respons. Jika suatu respons diikuti dengan satisfying of affairs (keadaan yang memuaskan), kekuatan koneksi itu akan bertambah. Jika respons diikuti dengan annoying state of affairs (keadaan yang menjengkelkan), kekuatan koneksi itu menurun.

Hukum – hukum yang dikembangkan oleh Thorndike itu, dewasa ini lebih dilengkapi dengan prinsip – prinsip sebagai berikut:
1.      Siswa harus mampu membuat berbagai jawaban terhadap stimulus (multiple response)
2.      Belajar dibimbing/diarahkan ke suatu tingkatan yang penting melalui sikap siswa itu sendiri
3.      Suatu jawaban yang telah dipelajari dengan baik dapat digunakan juga terhadap stimulus yang lain (bukan stimulus yang semula), yang oleh Thorndike disebut dengan perubahan asosiatif.
4.      Jawaban – jawaban terhadap situasi – situasi baru dapat dibuat. Apabila siswa melihat adanya analogi dengan situasi terdahulu
5.      Siswa dapat mereaksi secara selektif terhadap faktor – faktor yang esensial di dalam situasi itu.
    (Hamalik, 2004:40)
Dari penjelasan – penjelasan di atas maka penggunaan teori asosiasi atau aplikasi dari teori asosiasi dalam pembelajaran (khususnya) adalah pemberian hadiah atau hukuman di waktu yang pas kepada peserta didik oleh guru saat proses belajar mengajar. Agar respon yang diharapkan dapat terjadi seperti pemberian hadiah/pujian di waktu yang pas pada peserta didik yang mendapatkan nilai baik memotivasi mereka untuk kembali menginginkan perolehan nilai yang baik. Konsekuensi dari penggunaan teori ini adalah para guru harus menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai peserta didik disampaikan secara utuh oleh guru. Dan guru tidak banyak memberikan ceramah melainkan instruksi singkat yang diikuti contoh – contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. 
Teori Thurndike mengalami perubahan – perubahan atau revisi akibat dari kritikan – kritikan para ahli yang menunjukan bahwa pendapatnya tidak selalu benar. Revisi dalam beberapa pendapat Thorndike yakni :
a.       Law of readiness boleh dikata tak diubah sama sekali
b.      Law of exercise praktis diubah sama sekali
Ketidakbenaran atau ketidaktepatan law of exercises ini ditunjukan dengan eksperimen. Eksperimen yang khas yang menunjukan tidak benarnya law of exercises ialah “ulangan yang berlangsung dalam keadaan di mana law of effect itu tidak bekerja”. Misalnya berulang – ulang membuat garis yang panjangnya 10 cm tanpa mengetahui garis yang dibuatnya itu terlalu pendek atau terlalu panjang. Jadi ulangan itu tidaklah menghasilkan apa – apa; ulangan hanya membawa hasil kalau ada faktor lain yang bekerja yang menyebabkan ulangan itu efektif (berhasil). Misalnya : seperti contoh di atas, jika sekiranya subjek tahu garis yang telah dibuatnya itu terlalu panjang atau terlalu pendek maka tentulah usaha yang berikutnya akan lebih berhasil (Lebih baik hasilnya)
c.       Perubahan law of effect
Sejumlah ekperimen menunjukan bahwa pengaruh (effect) hadiah dan hukuman tiada bertentangan lurus seperti apa yang dikemukakan lebih dahulu, yaitu pengaruh hadiah memuaskan dan pengaruh hukuman tidak memuaskan serta besarnya kepuasan dan ketidakpuasan itu sama atau sebanding tetapi ternyata bahwa dalam keadaan di mana aksi simetris mungkin dilakukan hadiah nampaknya lebih kuat pengaruhnya daripada hukuman.
Salah satu ekperimen mengenai ini ialah dengan ayam. Suatu labirin yang sederhana dengan dua jalan pilihan, yaitu : (1) pilihan pertama menuju kebebasan dan berkumpul dengan teman-temannya serta mendapatkan makanan (hadiah) dan (2) pilihan kedua kembali kekurungan lagi (hukuman). Dengan statistic diperhitungkan kecendrungan untuk mengulangi pilihan yang membawa hadiah dan menghindari pilihan yang memberi hukuman.
   (Suryabrata, 2002:258-259)


Kesimpulan

Asosiasi ialah hubungan antara tanggapan yang satu dengan tanggapan yang lain dan saling memproduksi.
Teori Asosiasi dari Thorndike merupakan teori belajar yang berisi hubungan antara stimulus dan respons. Itulah sebabnya, teori asosiasi/koneksionisme juga disebut “S-R Bond Theory” dan “S-R Psychology of Learning” juga terkenal dengan sebutan “Trial and Error Learning”.
Menurut Thorndike praktik pendidikan harus dipelajari secara ilmiah karena ada hubungan erat antara pengetahuan proses belajar dengan praktik pengajaran. Jadi dia mengharapkan akan ditemukan lebih banyak lagi pengetahuan tentang hakikat belajar, semakin banyak pengetahuan yang dapat diaplikasikan untuk memperbaiki praktik pengajaran.
Penggunaan teori ini dalam pembelajaran adalah guru memberikan reward atau phunisment pada peserta didik agar memotivasi mereka belajar sehingga konsekuensinya guru harus menyusun bahan pelajaran yang sudah siap sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan terjadi serta guru tidak memberikan ceramah selama proses belajar melainkan hanya instruksi singkat yang diikuti contoh – contoh baik dilakukan sendiri atau saat simulasi.


  
Daftar Pustaka

Ahmad,Abu&Widodo Supriyono. 2004.  Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya
Dalyono, M. 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta:PT Rineka Cipta
Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta:PT Bumi Aksara
Hergenhahn,  B.R.&Mathew H. Olson. 2008. Theories of Learning (Teori Belajar). Jakarta:Kencana Prenada Media Grup
Sujanto, Agus. 2004. Psikologi Umum. Jakarta:Bumi Aksara
Suryabrata. 2002: Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Syah, Muhibbin. 2007. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung:PT Remaja Rosdakarya