Teori Hirarki Belajar Dari Robert M. Gagne

Teori Hirarki Belajar dari Robert M. Gagne

 http://math-succes.blogspot.com/

I.       PENDAHULUAN

Robert M. Gagne (1916-2002) adalah seorang ahli psikologi pendidikan. Ia telah banyak memperkenalkan berbagai pandangan tentang pembelajaran. Salah satunya adalah teori pembelajaran yang didasarkan pada pemrosesan informasi (Andriyani, 2008). Dalam teori belajar ini, salah satu hal yang sangat penting adalah perancangan instruktusinalnya.

Ada beberapa unsur yang melandasi pandangan Gagne tentang belajar. Menurutnya, belajar bukan merupakan proses tunggal melainkan proses yang luas yang dibentuk oleh pertumbuhan dan perkembangan tingkah laku. Jadi, tingkah laku itu merupakan hasil dari efek kumulatif belajar. Artinya, banyak keterampilan yang telah dipelajari memberikan sumbangan bagibelajar keterampilan yang lebih rumit. Kapasitas itu diperoleh dari (1) stimulus yang berasal dari lingkungan dan (2) proses kognitif yang dilakukan siswa (Andriyani, 2008).

Belajar menurut Gagne (Dahar, 2001) adalah suatu proses di mana suatu organisasi (siswa) berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman. Berdasarkan definisi ini, diketahui bahwa belajar merupakan suatu proses yang akan memerlukan waktu untuk melihat perubahannya. Perubahan yang dimaksudkan di sini adalah perubahan perilaku dari kurang baik menjadi lebih baik.
Seorang siswa dikatakan telah belajar jika telah terdapat perubahan dalam perilakunya. Dalam hal ini terdapat beberapa macam hasil belajar yang dikemukakan oleh Gagne (Driscoll, 2005), yaitu informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan keterampilan motorik.
Dalam proses pembelajaran, terutama di sekolah, melibatkan siswa dan guru. Siswa merupakan subjek yang akan belajar, sedangkan guru bertindak sebagai pemandu siswa dalam proses belajarnya. Oleh karena itu, sangat perlu dipersiapkan suatu rancangan pembelajaran yang akan menjadikan siswa belajar seperti yang seharusnya.

Dalam mempersiapkan rancangan pembelajaran terdapat banyak hal yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah mengenai teori-teori belajar yang mendukung rancangan pembelajaran yang sedang dipersiapkan. Hal ini perlu dilakukan agar dalam pelaksanaan pembelajaran nantinya menjadi lebih efektif.
Terdapat banyak ahli yang yang mengemukakan teori mengenai pembelajaran. Akan tetapi, dalam makalah ini hanya dibahas salah satu teori yang dicetuskan oleh Robert M. Gagne mengenai “Hirarki Belajar”.
Hal-hal yang dibahas dalam makalah ini adalah:
1.      Tingkatan hasil belajar;
2.      Tipe belajar;
3.      Objek belajar matematika;
4.      Situasi belajar; dan
Kejadian-kejadian instruktusional.


II.       PEMBAHASAN

A.   Tingkatan Hasil Belajar
Hal mendasar yang harus diketahui sebelum merencanakan sebuah pembelajaran adalah mengetahui apa hasil belajar yang ingin dicapai. Dalam hal ini, Bloom (Driscoll, 2005) membagi hasil belajar ke dalam tiga ranah utama, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Akan tetapi, Gagnemengklasifikan hasil belajar ke dalam lima kategori, dengan membagi ranah kognitif menjadi informasi verbal, strategi kognitif, dan keterampilan intelektual.
 Lima kategori hasil belajar menurut Gagne (Driscoll, 2005), yaitu informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan keterampilan psikomotor. Hal tersebut akan dijelaskan dalam uraian berikut ini.
1.      Informasi Verbal
Informasi verbal atau pengetahuan verbal kemampuan yang dinyatakan dengan kategori memperoleh label atau nama-nama, fakta, dan bidang pengetahuan yang sudah tersusun (Andriyani, 2008). Fakta ini dapat diperoleh sebagai hasil belajar di sekolah, dari ucapan orang lain, mendengar radio, televisi atau media lainnya.

2.      Keterampilan Intelektual
Keterampilan intelektual merupakan kemampuan untuk dapat memperbedakan, menguasai konsep, aturan, dan memecahkan masalah. Keterampilan ini memungkinkan seseorang berinteraksi dengan lingkungannya dalam simbol atau konseptualisasi. Dalam mempelajari keterampilan ini, seseorang memulainya dari hal-hal yang sederhana menuju yang lebih kompleks. Gagne (Driscoll, 2005) membagi kategori keterampilan intelektual menjadi sub-subketerampilan yang terurut berdasarkan tingkat kompleksitasnya. Keterampilan ini dirincikan ke dalam lima tingkatan, yaitu belajar diskriminasi (membedakan), konsep nyata, mendefinisikan konsep, aturan, dan tatanan aturan yang lebih tinggi – menyelesaikan masalah.  


a.       Diskriminasi (membedakan)
Kemampuan ini merupakan kemampuan pertama yang harus dikuasai seseorang dalam mempelajari keterampilan intelektual. Kemampuan membedakan yang dimaksudkan adalah kemampuan untuk memberikan respons yang berbeda terhadap berbagai stimulus yang diberikan antara bentuk satu atau lebih. Penjelasan sederhananya adalah, seseorang dapat menyatakan sama atau tidaknya dua stimulus yang diberikan. Hal ini dapat berupa tekstur, huruf, angka, bentuk, dan suara.
b.      Konsep Nyata
Belajar konsep nyata adalah mengetahui sifat-sifat umum benda nyata atau kejadian dan mengelompokkan objek-objek atau kejadian-kejadian dalam satu kelompok.
c.       Mendefinisikan Konsep
Seseorang dikatakan telah belajar mendefinisikan konsep jika ia dapat menunjukkan arti dari beberapa kelas khusus dari objek, kejadian, atau hubungan. Dengan kata lain, mereka dapat membedakan contoh kejadian baru atau ide dengan definisi mereka sendiri.
d.      Aturan
Tingkatan selanjutnya adalah belajar aturan. Yaitu menerapkan hubungan tunggal untuk memecahkan suatu bagian masalah.
e.       Tatanan Aturan Lebih Tinggi – Menyelesaikan Masalah
Aturan tatanan yang lebih tinggi ini disebut juga “problem solving”, atau menyelesaikan masalah. Dalam tingkatan ini seseorang menerapkan sebuah kombinasi aturan baru untuk menyelesaikan sebuah masalah kompleks.
Berikut ini contoh sederhana tingkatan keterampilan intelektual berdasarkan keterangan di atas.
  http://math-succes.blogspot.com/ 
Seorang siswa harus sudah dapat membedakan segi tiga dari bentuk yang lain sebelum ia akan dapat mempelajari identifikasi macam-macam segi tiga. Dengan kata lain, jika mereka tidak dapat melihat perbedaan segi tiga dari segi empat, dan menyatakannya sebagai segi empat, mereka tidak akan dapat mengidentifikasi contoh jenis segi tiga. Sejalan dengan hal tersebut, membedakan dan mengidentifikasi sudut siku-siku  dari sudut yang lain juga diperlukan sebelum siswa dapat mengidentifikasi sebuah segi tiga siku-siku. Sehingga, untuk mengidentifikasi sebuah segi tiga siku-siku, setidaknya seorang siswa harus menguasai identifikasi segi tiga dan sudut siku-siku.

Mempelajari tingkatan ini memberikan tiga keuntungan untuk merencanakan pembelajaran. Yaitu:
1.         Memastikan bahwa pembelajaran lengkap dengan mengidentifikasi semua komponen dari sebuah keterampilan intelektual yang dapat dirangkum dalam sebuah pelajaran
2.         memungkinkan pengurutan yang tepat pada sebuah pembelajaran dengan menunjukkan komponen-komponen apa saja yang harus dikuasai sebelum yang lain diselesaikan, dan
3.         Memberikan pembelajaran efektif dengan memfokuskan pada komponen penting dari pada yang tidak berhubungan atau topik yang “baik untuk diketahui”.
 


1.      Strategi Kognitif
Hasil belajar ini adalah kemampuan yang menentukan pembelajaran pribadi seseorang, mengingat, dan menentukan sikap. Memiliki teknik berpikir tertentu, cara menganalisis masalah, dan memiliki pendekatan untuk memecahkan masalah. Strategi ini desebut juga sebagai proses berfikir siswa sendiri.
Andriyani (2008) menjelaskan bahwa strategi kognitif merupakan kemampuan yang mengatur bagaimana siswa mengelola belajarnya, seperti mengingat atau berfikir dalam rangka mengendalikan sesuatu untuk mengatur suatu tindakan. Hal ini berpangaruh terhadap perhatian siswa dan informasi yang tersimpan dalam ingatannya serta menemukan kembali ingatan itu. Strategi ini adalah suatu proses informasi atau induksi di mana seseorang mengingat objek-objek kejadian untuk memperoleh suatu kejelasan mengenai suatu gejala tertentu untuk menghasilkan induksi.

2.      Sikap
Hasil belajar yang berupa sikap adalah hal-hal yang berkaitan dengan pemilihan tindakan pribadi berdasarkan pemahaman intens dan perasaan. Dapat juga dikatakan sebagai kondisi mental yang mempengaruhi pilihan tindakan pribadi.

3.      Keterampilan Psikomotorik
Keterampilan psikomotorik adalah keterampilan untuk melakukan kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan otot/tubuh (perbuatan jasmani). Indriyani (2008), menyebutkan bahwa ciri umum keterampilan ini adalah membutuhkan prasyarat untuk mengembangkan kemulusan/kehalusan dan pengaturan waktu. Dengan demikian, keterampilan ini akan bertambah sempurna jika sering dipraktekkan. Sebagai contoh adalah keterampilan menggunakan penggaris dan jangka dalam membuat bentuk lingkaran, segi tiga sama sisi, sudut siku-siku dan lain-lain.
 
B.   Tipe Belajar Menurut Gagne
Selain mengklasifikan hasil belajar Gagne juga mengelompokkan belajar ke dalam 8 tipe belajar. Ruseffendi (2006) memaparkan tipe-tipe tersebut,  yaitu isyarat (signal), stimulus respons, rangkaian gerak (motor chaining), rangkaian verbal (verbal chaining), membedakan (Discrimination chaining), pembentukan konsep (conceptformation), pembentukan aturan (principleformation), dan pemecahan masalah (problem solving). Penjelasan mengenai tipe-tipe belajar tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Isyarat (Signal)
Belajar isyarat adalah belajar sesuatu yang tidak diniati (disengaja) sebagai akibat dari suatu rangsangan yang dapat menimbulkan reaksi emosional. The Robert Gordon Unversity (1998) juga menjelaskan bahwa belajar isyarat adalah bentuk paling sederhana dari pembelajaran, dan pada dasarnya terdiri dari pengkondisian klasik yang pertama kali dijelaskan oleh psikolog perilaku Pavlov. Dalam hal ini, subjek 'dikondisikan' untuk memancarkan respon yang diinginkan sebagai hasil dari stimulus yang biasanya tidak menghasilkan respon itu. Hal ini dilakukan dengan terlebih dahulu mengekspos subjek terhadap stimulus yang dipilih (dikenal sebagai stimulus terkondisi) bersama dengan stimulus lain (dikenal sebagai stimulus berkondisi) yang menghasilkan respon yang diinginkan secara alami. Setelah sejumlah pengulangan dari stimulus ganda, ia menemukan bahwa subjek memancarkan respon yang diinginkan cukup dengan pemberian stimulus yang dikondisikan.
Contoh belajar isyarat adalah reaksi emosional siswa terhadap pelajaran matematika. Dapat berupa perasaan kesal yang terjadi akibat sikap atau ucapan gurunya yang tidak menyenangkan disebabkan oleh siswa tersebut acuh tak acuh dalam belajarnya. Atau sikap positif siswa terhadap matematika karena sikap gurunya yang menyenangkan. 


2.      Stimulus Respons
Perbedaan antara belajar stimulus respons dengan belajar signal terletak pada niat dan respons siswa. Jika dalam belajar isyarat siswa belajar tidak diniati dan responnya emosional, maka pada tipe belajar stimulus respons belajarnya diniati dan responnya jasmaniah (fisik).Contohnya siswa meniru menyebutkan segi tiga setelah gurunya menyebutkan segi tiga, siswa mengumpulkan benda segitiga setelah diminta oleh gurunya. Pada tipe belajar ini diharuskan adanya rangsangan dari luar yang akan menyebabkan timbulnya respons tertentu yang diharapkan dari siswa. Setiap adanya stimulus baru, pada diri siswa itu akan terjadi penguatan. 

3.      Rangkaian Gerak (Motor Chaining)
Rangkaian gerak adalah perbuatan jasmaniah terurut dari dua kegiatan (atau lebih) stimulus respons. Ini adalah bentuk yang lebih maju dari belajar di mana subjek mengembangkan kemampuan untuk menghubungkan dua atau lebih ikatan stimulus-respon yang dipelajari sebelumnya ke dalam urutan terkait. Sebagai contoh adalah kegiatan siswa dalam belajar menggambar ruas garis melalui dua titik yang diketahui. 

4.      Rangkaian Verbal (Verbal Chaining)
Rangkaian verbal adalah perbuatan lisan terurut dari dua kegiatan atau lebih stimulus respons. Contohnya dalam pembelajaran matematika adalah menyatakan atau mengemukakan pendapat tentang konsep, simbol, definisi, aksioma, dalil, dan lain-lain.

5.      Memperbedakan (Discrimination Chaining)
Belajar memperbedakan merupakan belajar memisah-misah rangkaian yang bervariasi. Dalam hal  ini dibedakan menjadi dua macam, yaitu membedakan tunggal misalnya pengenalan siswa terhadap lambang bilangan, dan membedakan jamak misalnya mengenal perbedaan antara lambang bilangan satu dengan lainnya.

  6.      Pembentukan Konsep (ConceptFormation)
Tipe belajar ini disebut juga tipe belajar pengelompokkan, yaitu belajar melihat (mengenal) sifat bersama benda-benda konkret atau peristiwa untuk dijadikan suatu kelompok. Sebagai contoh adalah siswa mengamati sisi meja (yang lurus), garis pertemuan dua dinding (lurus) dari ruangan kelas, seutas tali yang direntangkan dengan kuat. Dalam hal ini ia membedakan dengan lengkungan lain (tidak lurus),  ruas garis, sinar, dan lain-lain. 

7.      Pembentukan Aturan (PrincipleFormation)
Pada tipe belajar ini siswa diharapkan mampu memberikan respons terhadap semua stimulus dengan segala macam perbuatan. Dalam hal ini terutama adalah kemampuan menggunakannya. Misalnya, seorang siswa diharapkan mampu mengaplikasikan aturan (rumus) Phytagoras dalam segi tiga siku-siku, bukan hanya mampu menyebutkannya. 

8.      Pemecahan Masalah (Problem Solving)
The Robert Gordon Unversity (1998) menyatakan bahwa pemecahan masalah adalah tingkat tertinggi dari proses kognitif menurut Gagne. Ini melibatkan pengembangan kemampuan untuk menciptakan aturan yang kompleks, algoritma atau prosedur untuk tujuan memecahkan satu masalah tertentu, dan kemudian menggunakan metode untuk memecahkan masalah-masalah lain yang sifatnya serupa.
Dalam pemecahan masalah biasanya ada lima langkah yang harus dilakukan:
a.       Menyajikan masalah dalam bentuk yang lebih jelas
b.      Menyatakan masalah dalam bentuk yang operasional (dapat memecahkan masalah)
c.       Menyusun hipotesis-hipotesis alternatif dan prosedur kerja yang diperkirakan baik untuk dipergunakan dalam memecahkan masalah itu
d.      Mengetes hipotesis dan melakukan kerja untuk memperoleh hasilnya (pengumpulan data, pengolahan data, dan lain-lain), hasilnya mungkin lebih dari satu
e.       Memeriksa kembali apakah hasil yang diperoleh benar.

C.   Objek Belajar Matematika
Menurut Ruseffendi (2006),terdapat dua objek yang dapat diperoleh siswa dalam belajar matematika, yaitu objek langsung dan objek tidak langsung. Objek tidak langsung di antaranya kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, mandiri (belajar, bekerja, dan lain-lain), bersikap positif terhadap matematika, dan tahu bagaimana seharusnya belajar. Sedangkan objek langsung adalah fakta, keterampilan, konsep dan aturan (principle).
1.      Fakta, contohnya lambang bilangan, sudut, garis, simbol, dan notasi.
2.      Keterampilan, adalah kemampuan memberikan jawaban yang benar dan cepat. Misalnya membagi ruas garis menjadi dua ruas sama panjang, menjumlahkan pecahan, dan membagi bilangan dengan cara singkat.
3.      Konsep, merupakan ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan benda-benda (objek) ke dalam contoh dan bukan contoh. Misalnya, dengan menggunakan konsep garis lurus memungkinkan kita memisahkan objek-objek apakah termasuk garis lurus atau bukan.
4.      Aturan (principle), ialah objek yang paling abstrak, dapat berupa sifat, dalil, dan teori. Contohnya aturan “dua segi tiga sama dan sebangun jika dua sisi yang seletak dan sudut apitnya kongruen”.

Dalam mempelajari objek-objek belajar, menurut Gagne (Bell, 1978) ada beberapa fase utama yang dilalui seseorang, yaitu:
1.      Fase pengenalan (apprehendingphase)
Pada fase ini siswa memperhatikan stimulus tertentu kemudian menangkap artinya dan memahami stimulus tersebut untuk kemudian ditafsirkan sendiri dengan berbagai cara. ini berarti bahwa belajar adalah suatu proses yang unik pada tiap siswa, dan sebagai akibatnya setiap siswa bertanggung jawab terhadap belajarnya karena cara yang unik yang dia terima pada situasi belajar.
2.      Fase perolehan (acqusitionphase)
Pada fase ini siswa memperoleh pengetahuan baru dengan menghubungkan informasi yang diterima dengan pengetahuan sebelumnya. Dengan kata lain pada fase ini siswa membentuk asosiasi-asosiasi antara informasi baru dan informasi lama.
3.      Fase penyimpanan (storagephase)
Fase storage adalah fase penyimpanan informasi. Dalam hal ini ada informasi yang disimpan dalam jangka pendek ada yang dalam jangka panjang. Pengulangan informasi dalam memori jangka pendek dapat memindahkannya ke memori jangka panjang.
4.      Fase pemanggilan (retrievalphase).
Fase Retrieval/Recall, adalah fase mengingat kembali atau memanggil kembali informasi yang ada dalam memori.

 
E.   Situasi Belajar
Untuk mencapai hasil belajar seperti yang telah disebutkan sebelumnya, maka diperlukan situasi belajar yang tepat untuk setiap hasil belajar yang diinginkan. Sebagai contoh situasi yang diusahakan untuk mencapai hasil belajar verbal tidak tepat jika digunakan juga pada pembelajaran dengan tujuan mencapai keterampilan psikomotor.
Gagne (ICELS, 2014), menjelaskan dua jenis kondisi yang ada dalam pembelajaran: internal dan eksternal. Yang termasuk kondisi internal adalah kemampuan yang sudah ada pada diri siswa sebelum pembelajaran baru dimulai. Hal ini menjadikan kondisi internal diperlukan untuk belajar. Kondisi internal berubah selama proses pembelajaran. Sedangkan kondisi eksternal meliputi stimulus yang berbeda yang ada di luar siswa seperti lingkungan, guru, dan situasi belajar. Ini berarti bahwa setiap situasi belajar baru dimulai dari titik yang berbeda sebelum belajar dan akan terdiri dari situasi eksternal yang berbeda, tergantung pada siswa dan lingkungan belajar.
Gagne, Briggs, dan Wager (Driscoll, 2005) mengkategorikan situasi belajar berdasarkan pembagian tipe hasil belajar. Suatu rancangan pembelajaran harus dipersiapkan untuk mencapai hasil belajar sesuai dengan kategori yang diharapkan.


F.   Kejadian-Kejadian Instruktusional
Ada 9 kejadian belajar yang didasarkan pada pendapat Gagne (Driscoll, 2005), yaitu:
1.      Memelihara perhatian (GainingAttention)
Kejadian belajar pertama adalah mendapatkan perhatian. Hal ini dimaksudkan agar siswa siap melaksanakan pembelajaran yang akan disajikan. Selain itu juga untuk membangkitkan minat siswa terhadap apa yang akan dipelajari.
Contoh: Menampilkan melalui proyektor gambar bermacam-macam bangun datar yang diberi label pada masing-masing gambar. Di antaranya  terdapat beberapa segi tiga siku-siku dalam berbagai ukuran, warna, dan posisi.
2.      Menjelaskan kepada siswa tujuan pembelajaran (Informingthelearner of theobjective)
Kejadian berikutnya adalah menjelaskan kepada siswa apa tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Hal ini dimaksudkan agar siswa memahami apa saja keterampilan yang harus mereka kuasai setelah mengikuti kegiatan belajar.
Contoh: Menjelaskan kepada siswa bahwa mereka akan belajar mengidentifikasi segi tiga siku-siku.
3.      Merangsang ingatan tentang pelajaran sebelumnya (Stimulatingrecall of priorlearning)
Selanjutnya adalah merangsang ingatan mengenai pelajaran sebelumnya yang terkait dengan stimulus yang akan diberikan. Hal ini dapat berupa konsep, aturan, atau keterampilan. Andriyani (2008) menambahkan, dengan pengetahuan awal yang sudah dimiliki siswa dalam memori kerjanya, diharapkan siswa siap untuk membuat hubungan antara pengetahuan lamanya dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari.
Contoh: Meninjau kembali definisi segi tiga dan pengertian sudut siku-siku.
4.      Menyajikan stimulus (Presentingthecontent)
Kejadian belajar selanjutnya adalah menyajikan stimulus. Isi stimulus yang disajikan harus spesifik sesuai dengan hasil yang ingin dicapai.
Contoh: Memberikan definisi segi tiga siku-siku.
5.      Menyediakan bimbingan belajar (Providing “learningguidance”)
Bimbingan belajar diberikan untuk menjadikan stimulus sebermakna mungkin. Dengan demikian diharapkan siswa dapat lebih mudah mencapai tujuan belajar.
Contoh: Meminta siswa memilih salah satu gambar berlabel sebagai contoh segi tiga siku-siku dalam proyeksi yang telah disajikan.
6.      Menampilkan kinerja (Elicitingperformance)
Meminta siswa menunjukkan kemampuan yang telah dipelajari. Dapat dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan dalam bentuk latihan.
Contoh: Meminta siswa menunjukkan hasil pilihan mereka.
7.      Memberikanumpan balik (Providingfeedback)
Memberikan umpan balik terhadap apa yang telah ditunjukkan siswa. Hal ini bertujuan untuk memperkuat pelajaran yang baru diperoleh. Umpan balik yang diberikan berupa informasi tentang tingkat kebenaran atau ketidaktepatan kinerja.
Contoh: Menginformasikan kepada siswa apakah gambar yang dipilih sudah tepat atau belum tepat. Diiringi dengan tambahan penjelasan mengenai hal-hal yang masih belum tepat.
8.      Menilai kinerja (Assesingperformance)
Setelah penampilan kinerja dan pemberian umpan balik, selanjutnya adalah menilai kinerja. Bertujuan untuk memverifikasi bahwa pembelajaran telah terjadi setelah pemberian umpan balik. Hal ini dilakukan setelah pemberian stimulus tambahan.
Contoh: Meminta siswa untuk memilih kembali gambar yang lain. Kemudian memberikan penilaian terhadap hasil kerjanya.
9.      Meningkatkan retensi dan transfer (Enhacingretentionand transfer)
Kejadian selanjutnya adalah meningkatkan retensi dan transfer. Hal ini mengacu pada memindahkan kemampuan belajar ke ingatan jangka panjang dan memindahkannya ke dalam situasi baru di luar lingkungan belajar. Dapat dilakukan dengan cara mengulas kegiatan belajar yang telah berlangsung dan memberikan contoh penerapan dalam kehidupan nyata.
Contoh: Menyimpulkan kejadian belajar yang telah berlangsung dan memberikan contoh kejadian nyata yang berkaitan dengan bentuk segi tiga siku-siku.

Kejadian-kejadian belajar tersebut harus dilakukan sebara berurutan dan dalam tiap kejadiannya perlu didukung oleh peristiwa belajar tertentu agar menghasilkan aktivitas yang maksimal diri siswa. Hal ini sangat penting karena selalu ada dalam setiap tindakan belajar dan digunakan secara berlainan pada tingkatan hasil belajar yang berbeda (Andriyani, 2008).



III.       PENUTUP

Robert M. Gagne terkenal dengan konstruksinyamengenai  “hierarki belajar”. Hierarki belajar yang dimaksudkan adalah satu set komponen keterampilan yang harus dipelajari sebelum seseorang dapat mempelajari keterampilan yang kompleks.
Teori belajar yang dikemukakan olehGagne mengenai hierarki belajar sangat sesuai diterapkan dan dikembangkan dalam pembelajaran matematika. Salah satu hal utama yang mendasari adalah penggunaan prasyarat dalam pelaksaannya. Penjelasan-penjelasan mengenai hal ini telah diungkapkan dengan contoh-contoh pada pembahasan sebelumnya.

 



DAFTAR PUSTAKA


Andriyani, D., 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.

Bell, F.H., 1981. TeachingandLearningMathematics. U.S.A: Wm. C. Brown    Company Publishers.

Dahar, R.W., 2011. Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.

Driscoll, M.P., 2005. Psichology of Learning For Instruction. New Jersey: Pearson Education.

ICELS. 2014. Robert Gagne’sFiveCategories of LearningOutcomesandtheNineEvents of Instruction. (Online),  (http://www.icels-educators-for-learning.ca/index.php?option=com_content&view=article&id=54&Itemid=73), diakses 7 Pebruari 2014.

Ruseffendi. 2006. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pembelajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.

The Robert Gordon University. 1998. Gagne’sHierarchy of Learning. (Online), (http://www2.rgu.ac.uk/celt/pgcerttlt/how/how4a.htm), diakses 10 Januari 2014.