Teori Pengkondisian Klasik dari Ivan Petrovich Pavlov

Teori Pengkondisian Klasik dari Ivan Petrovich Pavlov


 http://math-succes.blogspot.com/

1. Pendahuluan
Belajar diartikan sebagai perubahan perilaku. Untuk memenuhi syarat sebagai pembelajaran, perubahan perilaku harus dibawa oleh interaksi seseorang dengan lingkungannya. Dengan demikian, belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan yang relatif permanen yang terjadi pada individu, dalam perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berpikir, yang terjadi melalui pengalaman (Asiaeuniversity, 2010:10).
Dalam psikologi pembelajaran dapat dilihat dari tiga perspektif utama, yakni: psikologi behaviorisme, psikologi kognitif dan psikologi kognitif sosial (Asiaeuniversity, 2010:10). .Hergenhahn dan Olson (2008:50) menyatakan bahwa dalam behaviorisme perilakulah yang harus dipelajari, karena perilaku dapat dikaji secara langsung.
Menurut pandangan behaviorisme (Asiaeuniversity, 2010:10) belajar didefinisikan dalam hal/peristiwa yang dapat diamati, yang disebut stimulus dan respon. Dimana stimulus diberikan oleh seseorang yang memiliki potensi untuk melakukan kontrol atas respon perilaku dan respon adalah prilaku terbuka yang diberikan oleh pebelajar.
Selanjutnya menurut pandangan behaviorisme terdapat beberapa ciri khusus dalam proses belajar dan mengajar, yakni: menekankan proses belajar dan pengukuran perilaku terbuka, fokus pada bagaimana stimulus tertentu (seperti objek, orang atau peristiwa) menyebabkan tanggapan khusus (yaitu perilaku sebagai reaksi terhadap stimulus), serta prinsip-prinsip utama yang digunakan adalah penguatan (reinfotcement) dan hukuman (punishment) (Asiaeuniversity, 2010:6). .
Dalam perkembangannya ada beberapa tokoh yang mengembangkan teori behavioristik diantaranya: Ivan P. Pavlov dengan Teori Pengkondisian Klasik, Edward L. Thorndike dengan Teori Asosiasi, B.F. Skinner dengan Teori Penguatan (reinforcement), dan Robert M. Gagne dengan Teori Hirarki Belajar. 
Dalam pembahasan ini, penulis membahas teori belajar behaviorisme menurut pandangan Ivan P. Pavlop dengan teorinya Penkondisian Klasik (The Classical Conditioning). Penulis akan mengkaji teori pengkondisian Klasik ditinjau dari filsafahnya, yakni Apa itu Teori Pengkondisian Klasik? Bagaimana Teori Pengkondisian Klasik Itu? dan Apa kegunaan dari Teori Pengkondisian Klasik tersebut? 

2. Pembahasan
2.1. Teori Pengkondisian Klasik
Ivan Petrovich Pavlov (1848-1936) adalah seorang ilmuan berkebangsaan Rusia yang memperkenalkan teori pengkondisian klasik (classical conditioning). Pada dasarnya Pavlov tidak benar-benar memiliki tujuan menciptakan teori pengkondisian klasik dalam eksperimennya, karena ia adalah seorang ahli fisiologi. Niatnya dari penelitian ini adalah untuk melihat berapa banyak air liur anjing diproduksi ketika anjing akan diberi makan.
Dengan metode studi pencernaan, Pavlov menggunakan cara pembedahan pada anjing, yang memungkinkan cairan perut mengalir melalui suatu hiliran (fistula) keluar dari tubuh, dan cairan itu ditampung (Hergenhahn dan Olson, 2008:181).
Percobaan Pavlov ini dapat dilihat pada gambar 1 di bawah. Anjing dengan esophageal dan cairan perut. Susunan seperti ini memungkinkan anjing diberi makan, namun makanan tidak akan mencapai perut, selain itu cairan perut yang mengalir dari perut dapat diukur (Hergenhahn dan Olson, 2008:181) .

Gambar 1. Anjing dengan esophageal dan cairan perut.

Setelah itu, Pavlov juga bereksperimen dengan memperdengarkan langkah kaki eksperimenter pada anjing, ternyata anjing juga mengeluarkan air liur. (Hergenhahn dan Olson, 2008:181). Pavlov berkesimpulan bahwa Anjing akan mengeluarkan air liur baik ada makanan ataupun tidak ada makanan. Setelah itu, Pavlov mengetahui bahwa itu (air liur anjing) bukan respon otomatis (refleks psikis) terhadap rangsangan tertentu.
 Selanjutnya Hergenhahn dan Olson (2008:183) menyatakan bahwa refleks psikis adalah refleks yang dikondisikan. Salah satu eksperimen Pavlov mengenai refleks psikis adalah sebagai berikut:
Pavlop melakukan dua eksperimen, eksperimen pertama Pavlov memberikan anjing makanan, mengakibatkan akan muncul gerakan mulut anjing dan mengeluarkan air liur. Selanjutnya ke eksperimen kedua, sebelum memberikan makanan ke anjing, Pavlop memperkenalkan beberapa agen eksternal kepada anjing tersebut, misalnya suara tertentu (seperti: bell). Apa yang terjadi kemudian? Dengan cukup mengulang suara bell tersebut dan reaksi yang serupa pada percobaan pertama akan muncul gerakan mulut yang sama dan pengeluaran air liur yang sama. Contoh ini dapat di ilustrasikan pada gambar 2 di bawah.


Gambar 2. Eksperimen reflek psikis Pavlop pada anjing

Hergenhahn dan Olson (2008:183-184) menjelaskan unsur yang dibutuhkan untuk melahirkan pengkondisian klasik adalah,
a)    Unconditional Stimulus (stimulus yang tidak dikondisikan [US]), yang menimbulkan respon alamiah atau otomatis dari organisme
b)   Unconditional Respons (respon yang tidak dikondisikan [UR]), yang merupakan respon alamiah dan otomatis yang disebabkan oleh US
c)    Neutral Stimulus (stimulus netral [NS}), yang merupakan stimulus netral karena ia tidak menimbukan respon alamiah atau otomatis pada organisme.
d)   Conditioned Stimulus (stimulus yang dikondisikan [CS]), dimana pada fase ini US dan NS dikondisikan bersamaan sebagai CS. Fase ini dilakukan secara berulang-ulang untuk membentuk suatu pembiasaan dan pengkondisian pada responden
e)    Conditioned Respons (respon yang dikondisikan [CR]), CR terjadi jika US, UR, dan CS bercampur dengan cara tertentu.
Prosedur pengkondisian klasik digambarkan dalam diagram 1 di bawah. 
Prosedur training: CS → US → UR
Demonstrasi pengkondisian: CS → CR
 
Penjelasan diagram 1 untuk prosedur percobaan (prosedur training) Untuk menghasilkan CR, SC dan US harus dipasangkan beberapa kali. Pertama CS dihadirkan, lalu US dihadirkan dan urutan penyajian ini sangat penting, dimana setiap kali US terjadi maka UR akan muncul. Pada akhirnya ketika demonstrasi pengkondisian CS dapat disajikan sendirian, dan akan menghasilkan respon yang sama dengan UR, ketika hal itu terjadi CR akan muncul.
Berdasarkan contoh refleks psikis pengkondisian klasik di atas, US adalah makanan, UR adalah air liur (yang disebabkan oleh makanan), dan CS adalah suara bell, yang tentu saja tidak akan menyebabkan anjing berliur, tetapi setelah dipasakan dengan makanan, suara bell memiliki kemampuan untuk menyebabkan anjing mengeluarkan air liur. Pengeluaran air liur akibat mendengarkan suara bell adalah CR. Pavlop berpendapat bahwa UR dan CR selalu merupakan jenis respon yang sama. 
 Berdasarkan eksperimen dengan menggunakan anjing, Pavlov menyimpulkan bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu harus dilakukan secara berulang-ulang dengan melakukan pengkondisian tertentu. Pengkondisian itu adalah dengan melakukan semacam pancingan dengan sesuatu yang dapat menumbuhkan tingkah laku itu. Hal ini dikarenakan classical conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut.
Suatu stimulus akan menimbulkan respons tertentu apabila stimulus itu sering diberikan bersamaan dengan stimulus lain yang secara alamiah menimbulkan respons tersebut. Dalam hal ini perubahan perilaku terjadi karena adanya asosiasi antara kedua stimulus tersebut.
Berdasarkan hasil eksperimen tersebut, Pavlov juga menyimpulkan bahwa hasil eksperimennya itu juga dapat diterapkan kepada manusia untuk belajar. Implikasi hasil eksperimen tersebut pada kegiatan belajar manusia adalah bahwa belajar pada dasarnya membentuk asosiasi antara stimulus dan respons secara reflektif, proses belajar akan berlangsung apabila diberi stimulus bersyarat.
Aplikasi teori pengkondisian klasik dalam pembelajaran matematika di sekolah, sebagai berikut:
Guru mengidentifikasi hal-hal yang membuat siswa termotivasi untuk mengerjakan soal-soal matematika, misalnya: Siswa akan senang diberikan hadiah (reward). Berdasarkan contoh di atas, dapat dijabarkan beberapa unsur dalam pengkondisian klasik, yaitu:
  1. US : hadiah (reward)
  2. UR : siswa menjadi semangat dan tertarik ketika diberi hadiah
  3. NS : soal-soal matematika
  4. NCS : Siswa tidak tertarik untuk mengerjakan soal
  5. CS : hadiah diberikan setelah siswa mengerjakan soal-soal matematika
Maka pengkondisiannya dapat dilakukan sebagai berikut :
  1. Sebelum dikondisikan, jika siswa diberikan stimulus yang tidak dikondisikan [US] berupa hadiah maka respon yang tidak dikondisikan [UR] adalah siswa menjadi senang lebih bersemangat dan gembira. 
  2. Sebelum dikondisikan, jika siswa diberikan suatu stimulus baru yang disebut Neutral Stimulus yaitu soal-soal matematika [NS] maka tidak akan muncul respon dari siswa berupa kesenangan serta ketertarika untuk mengerjakan soal.
  3. Selama pengkondisian [CS], apabila siswa mau mengerjakan soal matematika [NS] maka siswa akan diberikan hadiah [US] sehingga siswa akan merasa senang dan tertarik untuk mengerjakan soal-soal matematika. Hal ini dilakukan berulang-ulang sehingga akan membentuk kondisi pembiasaan pada siswa. Jika hal ini dilakukan berulang-ulang maka siswa akan terbiasa dengan ketika mengerjakan soal akan mendapatkan hadiah [CS].
  4. Setelah pengkondisian, ketika siswa diberikan soal berupa stimulus penkondisian [CS] tanpa diberikan hadiah [US] maka siswa akan merasa senang dan tertarik untuk mengerjakan soal-soal tersebut [CR].
2.2. Konsep Teoritis Utama Pengkondisian Klasik
Hergenhahn dan Olson (2008:189-192) menjelaskan beberapa konsep teoritis utama penkondisian klasik yang dikemukakan oleh Pavlov, yakni:
a)    Eksitasi (Kegairahan) dan Hambatan
Dua proses dasar yang mengatur semua aktifitas sistem saraf sentral adalah kegairahan dan hambatan. Setiap kejadian di lingkungan berhubungan dengan beberapa titik di otak dan saat kejadian itu dialami, ia cenderung menggairahkan atau menghambat aktivitas otak, Jadi, otak terus-menerus dirangsang atau dihambat, tergantung dari apa yang dialami oleh organisme, Pola eksitasi dan hambatan  yang menjadi karakteristik otak disebut cortical mozaik (mosaik kortikal), Mosaik kortikal pada suatu momen akan menetukan bagaimana organisme merespon lingkungan. Setelah lingkungan eksternal atau internal berubah, mosaik kortikal akan berubah dan perilaku juga berubah.

b)   Stereotip Dinamis
Ketika kejadian terjadi secara konsisten dalam suatu lingkungan, mereka akan memiliki representasi neurologis dan respon terhadap mereka akan lebih mungkin terjadi dan lebih efisien. Jadi, respon terhadap lingkungan yang sudah dikenal akan makin cepat dan otomatis. 

c)    Iradiasi dan Konsetrasi
Irradiation of excitation (iradiasi eksitasi) adalah respon otak akibat proyeksi suatu informasi sensori (indrawi). Suatu informasi sensori merupakan hasil analisis reseptor indrawi (jalur sensosi dari reseptor ke otak). Sementara itu, concentration (konsentrasi) sebuah proses yang berlawanan dengan iradiasi, mengatur eksitasi dan hambatan. Pavlov menjelaskan bahwa proses iradiasi dipakai untuk menjelaskan generalisasi, sedangakan konsetrasi dipakai untuk menjelaskan diskriminasi,

d)   Pengkondisian Eksitatoris dan Inhibitoris
Pavlov mengidentifikasi dua tipe umum pengkondisian yakni, exictatory conditioning (excitatoris) dan conditional inhibition (inhibitoris). Eksitatoris akan tampak ketika pasangan CS-US menimbulkan suatu respon, dan inhibitoris tampak ketika training CS menghambat atau menekan suatu respon.


2.5. Penggunaan Teori Pengkondisian Klasik
a) Penerapan teori pengkondisian klasik untuk pengobatan
1) Adanya bidang psikoneuroimunologi
Riset yang dilakukan oleh Metalnikov dengan menggunakan babi sebagai subjek. Metalnikov memasangkan stimuli panas atau rabaan (CS) dengan protein asing (US). Beberapa kali penyandingan CS dan US, presentasi stimuli panas atau sentuhan saja akan menimbulkan berbagai respons immune nonspesifik. Sayangnya, riset ini sedikit diabaikan tetapi Robert Ader dan kawnanya membangkitkan kembali minat pada topik ini hingga menemukan bidang interdisipliner.
2)   Penemuan fungsi sakarin 
Ader yang mempelajari aversi cita rasa dengan memasangkan minuman sakarin (CS) dengan injeki obat (US). Obat ini ternyata menekan system kekebalan. Hingga percobaan dilakukan pada tikus oleh Ader dan Cohen. Percobaan itu menyimpulkan bahwa sakarin mempunyai kemampuan untuk menekan system kekebalan tuhuh dengan cara spesifik.
Dengan adanya temuan keberfungsian pengkondisina klasik untuk pengobatan, banyak ahli psikoneuronologi berharap bisa menjelaskan secara detail bagaimana pengkondisian dapat membantu pasien yang mengalami gangguan kekebalan tubuh di masa mendatang. 

b) Penggunaan teori pengkondisian klasik dalam bidang pendidikan
Hergenhahn dan Olson (2008:210-211) menguraikan pendapat Pavlov tentang penggunaan teori pengkondisian klasik dalam bidang Pendidikan, adalah sebagai berikut:
Prinsip Pavlovian sulit untuk diaplikasikan ke pendidikan kelas, meskipun prinsip itu ada. Secara umum, teori pengkondisian klasik ini terjadi pada setiap kejadian netral. Misalnya, seorang peserta didik yang menemukan bahwa konselor sekolahnya memiliki sikap dan perilaku yang baik dan menyenangkan bagi dirinya. Maka, ia akan termotivasi untuk memiliki sikap seperti gurunya ataupun dia dapat terilhami untuk berkarier menjadi seorang konselor nantinya. Hal ini selaras dengan seseorang yang mengembangkan aversi terhadap pendidikan seumur hidup karena adanya pengalaman buruk yang ia alami pada saat belajar di kelas dahulu.
Teknik Pavlovion dipakai untuk memodifikasi perilaku, situasi tampak menyerupai brainwashing dari pada pendidikan. Contoh dari prinsip Pavlovion yang digunakan untuk memodifikasi sikap adalah iklan televisi. Pengiklanan menyandingkan suatu objek dengan sesuatu yang lain. Secara bertahap, iklan itu akan menyebabkan pemirsa menganggap produk itu membuat mereka untuk memiliki atau merasakan situasi yang ditampilkan di iklan.

 
2.6. Kontribusi Teori Pengkondisian Klasik Pavlov
Beberapa kontribusi teori pengkondisian klasik Pavlov, antara lain:
a)    Teori pengkondisian klasik menjadi teori pertama yang mambahas tentang belajar antisipasi. Pembahasannya mengenai CS sebagai sinyal adalah unik apabila dibandingkan dengan teoritisi belajar lain yang memperlakukan stimuli sebagai kejadian kausal dalam koneksi S-R sebagi penguat.
b)   Memberikan kontibusi yang cukup besar pada prosedur eksperimen untuk bidang psikologi Hal ini  bisa penulis telaah dari teori pengkondisian klasik yang dapat diaplikasikan untuk psikologis klinis dan pengobatannya. Selain itu, pada dasarnya teori ini memang mendasarkan kajian dan risetnya pada sikap dan perilaku yang sangat berkaitan dengan keadaan jiwa seseorang.

3. Penutup
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan:
a)    Belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon.
b)   Aplikasi teori belajar behaviorisme dalam pembelajaran, tergantung dari beberapa hal seperti tujuan pembelajaran, sifat meteri pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia.
c)    Menurut teori pengkondisian klasik, untuk membentuk tingkah laku tertentu harus dilakukan secara berulang-ulang dengan melakukan pengkondisian tertentu. Pengkondisian itu adalah dengan melakukan semacam pancingan dengan sesuatu yang dapat menumbuhkan tingkah laku itu. Hal ini dikarenakan classical conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut.
d)  Dalam proses pembelajaran classical conditioning, belajar pada dasarnya membentuk asosiasi antara stimulus dan respons secara reflektif, proses belajar akan berlangsung apabila diberi stimulus bersyarat.



DAFTAR PUSTAKA

Asianeuniversity. “What is educational Pshycology? “ . Tersedia pada http://peoplelearn.homestead.com/BEduc/Chapter_1.pdf. Diakses tanggal 2 Februari 2014.
____________. “Learning Theory : Behaviorism”. Tersedia pada http://peoplelearn.homestead.com/BEduc/Chapter_4.pdf.   Diakses tanggal 2 Februari 2014.

Hergenhahn, B.R., dan Olson, M.Hg. 2008. Theories Of Learning (Teori Belajar). Jakarta: Kencana.