Teori Penguatan dari B. F. Skinner

Teori Penguatan dari B. F. Skinner

 http://math-succes.blogspot.com/
   
I.   Pendahuluan
           Skinner (1904–1990) dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Dimana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan.
Menajemen kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yang tidak tepat. Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant (penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.
Dalam pembahasan ini penulis membahas teori Penguatan (Reinforcement). Penulis akan mengkaji teori ini ditinjau dari filsafahnya, yakni Apa itu Penguatan? Bagaimana Teori Penguatan Itu? dan Apa kegunaan dari Teori Penguatan dalam pendidikan? 


II. PEMBAHASAN
2.1 Teori Penguatan Skinner
Skinner membedakan dua jenis perilaku, yaitu respondent behavior (perilaku responden),  ditimbulkan  oleh stimulus yang dikenali. Ketika ada stimulus, respon terjadi secara otomotis. dan operant behavior (perilaku operan), yang tidak diakibatkan oleh stimulus yang dikenal tetapi dilakukan sendiri oleh organisme.
Respon yang tidak terkondisikan (bersyarat) atau unconditioned response adalah contoh dari perilaku responden karena respons ini ditimbulkan oleh stimuli yang tak terkondisikan, contoh dari perilaku responden adalah semua gerak refleks, seperti menarik tangan ketika tertusuk jarum, menutupnya kelopak mata saat terkena cahaya yang menyilaukan, dan keluarnya air liur saat ada makanan. Sedangkan perilaku operan pada awalnya tidak berkorelasi dengan stimuli yang dikenali, maka ia tanpa spontan. Contohnya adalah tindakan ketika hendak bersiul, berdiri lalu berjalan, atau anak yang meninggalkan satu mainan dan beralih ke mainan lainnya.
 
Bersama dengan dua macam perilaku tersebut, ada dua jenis pengkondisian. Pengkondisian tipe S yang juga dinamakan respondent conditioning (pengkondisian responden) dan tipe kondisi yang menyangkut perilaku operan dinamakan tipe R karena penekanannya adalah pada respons. Pengkondisian tipe R dinamakan operant conditioning (pengkondisian operan).
Ada dua prinsip umum dalam pengkondisian tipe R : (1) setiap respon yang diikuti dengan stimulus yang menguatkan cenderung akan diulang; dan (2) stimulus yang menguatkan adalah segala sesuatu yang memperbesar rata-rata terjadinya respons operan. Penguat adalah segala sesuatu yang meningkatkan probabilitas terjadinya kembali suatu respons.
Menurut skinner, organisme bernyawa akan senantiasa dikondisikan oleh lingkungannya. yang membiarkan prinsip belajar beroperasi tak terduga, atau bisa secara sistematis menerapkan prinsip itu dan memberi arah kepada perkembangan.
Pembelajaran perilaku operan juga dikenal sebagai pengkondisian, namun berbeda dengan pengkondisian refleks, menurut pengkondisian operan jika suatu operan terjadi dan diikuti oleh penguatan, kemungkinannya untuk terjadi lagi pun meningkat. 


2.2  Kotak Skinner
  http://math-succes.blogspot.com/  http://math-succes.blogspot.com/
Adapun isi dari Skinner Box adalah grid floor (lantai berjaring listrik), tuas, feeder mechanism dan mangkok makanan. Perabot-perabot tersebut disusun sedemikian rupa sehingga jika binatang menekan tuas maka feeder mechanism akan bergerak (berbunyi) sebagai tanda keluarnya makanan yang dialirkan ke mangkok makanan.


Langkah-langkah Pengkondisian respons penekanan-tuas sebagai berikut :
1.             Deprivasi
Hewan percobaan diletakkan dalam jadwal deprivasi. Jika makanan akan dipakai sebagai penguat (reinforcer), hewan itu tidak diberi makan selama 23 jam selama beberapa hari sebelum percobaan, atau ia diberi jatah makan 80 persen dari normal. Jika yang dipakai sebagai penguat adalah air minum, maka hewan tidak diberi minum selama 23 jam selama beberapa hari sebelum percobaan. Deprivasi ini berfungsi sebagai perangkat prosedur yang dihubungkan dengan bagaimana suatu organism melakukan tugas tertentu.
2.             Magazine Training
Setelah menjalani jadwal deprivasi selama beberapa hari, hewan diletakkan di kotak Skiner. Dalam magazine training, eksperimenter menggunakan tombol eksternal yang menarik mekanisme pemberian makanan dan memastikan hewan itu tidak dekat-dekat dengan cangkir makanan saat eksperimenter menekan tombol (sebab jika tidak hewan tersebut akan belajar untuk tetap dekat-dekat dengan cangkir makanan). Ketika mekanisme pemberian makanan diaktifkan dengan tombol eksternal itu, ia akan menghasilkan bunyi klik yang cukup nyaring sebelum potongan makanan jatuh ke cangkir makanan. Pelan-pelan hewan itu akan mengasosiasikan (mengaitkan) suara klik dari magazine itu dengan adanya makanan. Pada saat itu suara klik menjadi penguat sekunder lewat asosiasinya dengan penguatan primer (makanan), suara klik ini juga menjadi petunjuk atau sinyal bagi hewan bahwa jika ia merespons dengan mendekati cangkir makanan, ia akan diperkuat.
3.             Penekanan Tuas  
                     Sekarang hewan dibiarkan sendiri di kotak Skinner, Pada akhirnya, hewan itu akan menekan tuas, yang akan mengaktifkan magazine makanan, menimbulkan bunyi klik dan memberi sinyal bagi hewan itu untuk mendekati cangkir makanan. Menurut prinsip pengkondisian operan, respons penekanan-tuas, setelah diperkuat, akan cenderung diulang, dan saat diulang respon itu diperkuat lagi, yang meningkatkan probabilitas pengulangan respons penekanan-tuas, dan demikian seterusnya.


Salah satu cara untuk menunjukan properti penguat dari stimulus sebelumnya adalah dengan menyalakan lampu di kotak Skinner sebelum hewan menerima makanan setelah ia menekan tuas. Menurut prinsip penguatan sekunder, pemasangan cahaya dengan makanan akan menyebabkan cahaya memiliki properti penguatan tersendiri. Salah satu cara untuk menguji ide ini adalah dengan melenyapkan respon penekanan tuas sehingga ketika hewan menekan tuas, tidak ada makanan yang diberikan. Ketika tingkat respon penekanan tuas ini menurun ke level operan, kita menata agar penekanan tuas itu akan menyalakan cahaya tetapi tidak menghasilkan makanan. Kita mencatat bahwa respon meningkat. Karena cahaya itu sendiri meningkatkan tingkat respon dan karenanya memperlama pelenyapan, maka kita mengatakan cahaya itu menjadi memiliki karakteristik penguat tersendiri melalui asosiasinya dengan makanan pada masa akuisisi (training). Cahaya yang tidak diasosiasikan dengan penguat utama tidak akan menghasilkan efek yang serupa selama pelenyapan.
Skinner menggunakan cumulative recording  (pencatatan komulatif) untuk mencatat perilaku hewan dalam kotak Skinner. Waktu dicatat di sumbu x dan total jumlah respons dicatat disumbu y. pencatatan komulatif tidak pernah turun-garisnya naik atau tetap sejajar dengan sumbu x. misalnya kita ingin tahu seberapa sering hewan menekan tuas. Ketika catatan kumulatif menunjukan garis yang sejajar atau parallel dengan sumbu x, maka itu berarti tidak ada respons; artinya, hewan tidak menekan tuas. Ketika hewan memberikan respons dengan menekankan tuas, maka penulisan garis akan naik dan tetap di level itu sampai hewan merespon lagi. Jika misalnya, hewan menekan tuas ketika ia pertama kali diletakan di kotak skinner, pena akan mencatat kenaikan dan akan tetap di sana sampai hewan merespons lagi, dan setiap kali hewan merespons pena akan terus mencatat naik. Apabila hewan merespons dengan cepat, garisnya akan naik dengan cepat pula. Tingkat kenaikan garis menunjukan tingkat respons; garis yang curam menunjukan respons yang amat cepat, dan garis yang paralel dengan sumbu x mengindikasikan tidak adanya respons.
 
http://math-succes.blogspot.com/ 

Ketika kita mencabut penguat dari situasi pengkondisian operan, berarti kita melakukan extinction (pelenyapan). Selama akuisi hewan mendapatkan secuil makanan setiap kali dia menekan tuas. Dalam hal ini hewan belajar menekan tuas dan akan terus melakukannya sampai ia kenyang. Jika mekanisme pemberian makanan mendadak dihentikan, dan karenanya penekanan tuas tidak akan menghasilkan makanan, maka kita akan melihat catatan komulatif pelan-pelan akan mendatar dan akhirnya akan sejajar dengan sumbu x, yang menunjukan tidak ada lagi respons penekanan tuas. Setelah pelenyapan, apabila hewan dikembalikan kesarangnya selama periode waktu tertentu dan kemudian dikembalikan ke situasi percobaan, ia sekali lagi akan mulai menekan tuas dengan segera tanpa perlu dilatih lagi yang disebut sebagai spontaneous recovery (pemulihan spontan).
 



2.3 Jenis – Jenis Penguatan
Penguat ada yang bersifat positip dan ada yang bersifat negative.  tetapi, Penguat positif dan penguat negatif keduanya bisa dikondisikan, jika suatu stimulus terjadi berkali-kali dengan disertai penguat positif, stimulus itu cenderung untuk mampu menguatkan perilaku.
Penguat positif (positive reinforcmers) adalah sesuatu yang secara alamiah memperkuat bagi organisme dan penguat negative (negative reinforcers) adalah sesuatu yang membahayakan secara tidak alamiah bagi organisme berwujud stimuli penghinderaan yang pada umumnya dihindari oleh individu.Penguatan dapat dianggap sebagai stimulus positif, jika penguatan tersebut seiring dengan meningkatnya perilaku siswa dalam melakukan pengulangan perilakunya itu. Dalam hal ini penguatan yang diberikan kepada siswa memperkuat tindakan siswa, sehingga siswa semakin sering melakukannya. Contoh penguatan positif diantaranya adalah pujian yang diberikan kepada siswa, sikap guru yang menunjukkan rasa gembira pada saat siswa bisa menjawab dengan benar.


Penguatan positif akan berbekas pada diri siswa. Mereka yang mendapat pujian setelah berhasil menyelesaikan tugas atau menjawab pertanyaan dengan benar biasanya akan berusaha memenuhi tugas berikutnya dengan penuh semangat. Penguatan yang berbentuk hadiah atau pujian akan memotivasi siswa untuk rajin belajar dan mempertahankan prestasinya. Penguatan yang seperti ini sebaiknya segera diberikan dan jangan ditunda - tunda. Penguatan negatif adalah bentuk stimulus yang lahir akibat dari respon siswa yang kurang atau tidak diharapkan. Penguatan negative diberikan agar respon yang tidak diharapkan atau tidak menunjang pada pelajaran tidak diulangi siswa. Penguatan negatif itu dapat berupa teguran, peringatan atau sangsi. Namun untuk mengubah tingkah laku siswa dari negatif menjadi positif guru perlu mengetahui psikologi yang dapat digunakan untuk memperkirakan (memprediksi) dalam mengendalikan tingkah laku siswa.Di dalam kelas guru mempunyai tugas untuk mengarahkan siswa dalam aktivitas belajar, karena pada saat tersebut kontrol berada pada guru, yang berwenang memberikan instruksi ataupun larangan pada siswanya.


2.4  Aplikasi Teori Skinner dalam pendidikan
B.F Skinner dalam Sagala Syaiful (2013:14) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi untuk penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progressif. Belajar juga dipahami sebagai suatu perilaku, pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya bila ia tidak belajar, maka responnya menurun. Jadi belajar ialah suatu perubahan dalam kemungkinan atau peluang terjadinya respons.
Menurut Skinner dalam belajar ditemukan hal-hal berikut : (1) kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons belajar; (2) respons si pelajar; (3)  konsekwensi yang bersifat menggunakan respons tersebut, baik konsekwensinya sebagai hadiah maupun teguran atau hukuman. Dalam menerapkan teori Skinner, guru perlu memperhatikan dua hal yang penting, yaitu (1) pemilihan stimulus yang diskriminatif; dan (2) penggunaan penguatan.

Langkah-langkah pembelajaran berdasarkan teori Conditioning Operant menurut Skinner adalah: (1) mempelajari keadaan kelas berkaitan dengan perilaku siswa; (2) membuat daftar penguat positif; (3) memilih dan menentukan urutan tingkah laku yang dipelajari serta jenis penguatnya; dan (4) membuat program pembelajaran berisi urutan perilaku yang dikehendaki,penguatan,waktu mempelajari perilaku, dan evaluasi.
Menurut Skinner, belajar akan berlangsung sangat efektif apabila : (1) informasi yang akan dipelajari disajikan secara bertahap; (2) pembelajar segera diberi umpan balik (feedback) mengenai akurasi pembelajarn mereka. yakni, setelah belajar mereka diberi tahu apakah mereka sudah memahami informasi dengan benar atau tidak; dan (3) pembelajar mampu belajar dengan caranya sendiri.
Skinner menegaskan bahwa tujuan belajar seharusnya dispesifikasikan secara behavioral dahulu sebelum pelajaran dimulai. Jika satu unit didesain untuk mengajar kreativitas, murid harus tahu apa yang dilakukannya saat mereka menjadi kreatif. “dan jika suatu unit didesain untuk mengajarkan pemahaman matematika, murid tahu apa yang dilakukannya jika mereka memahami matematika.
Skinner menghindari pemberian hukuman. Mereka akan memperkuat perilaku yang tepat dan megabaikan perilalu yang kurang tepat. Karena lingkungan belajar didesain agar siswa memdapatkan kesuksesan maksimal, mereka biasanya memerhatikan materi yang hendak dipelajari. Menurut  Skinnerian, problem perilaku di sekolah adalah akibat dari perencanaan pendidikan yang buruk, seperti kegagalan untuk memberikan pendidikan sesuai dengan kemampuan murid, member terlalu banyak paket pelajaran ynag tidak mudah dipahami, menggunakan disiplin keras untuk mengontrol perilaku.menggunakan perencanan yang kakuharus dipatuhi oleh semua murid, atau menyuruh siswa duduk dian tak bergerak.


Hill (2011: 122) menuliskan bahwa aplikasi Skinner dalam dunia pendidikan berupa pembelajaran terprogram (programmed learning), yang pertama kali dipopulerkan melalui penggunaan mesin-mesin pengajaran, Skinner memberikan dorongan bagi gagasan tersebut yang tujuannya untuk memberlakukan pembelajaran ruang kelas seperti situasi lain dimana perilaku tertentu, dalam hal ini perilaku verbal hendak dibentuk. Siswa harus melangkah secara bertahap dari materi yang familiar menuju materi yang tidak familiar, siswa diberi kesempatan untuk belajar diskriminasi yang diperlukan, dan harus diberi penguatan.
Komponen dasar mesin ini adalah program. Program ini meliputi serangkaian item pengajaran dan test yang secara bertahap menuntun murid untuk menghadapi materi yang hendak dipelajari. Suatu item bisa mengandung informasi baru atau tidak, namun pada masing-masing siswa dituntut untuk mengisi lembar kosong dengan statemen dan kemudian menengok jawaban yang benar. Jika yang tertera sebagai jawaban siswa, kesesuaian ini membentuk penguatan. Jika tidak, siswa bisa mempelajari jawaban yang benar untuk meningkatkan peluang mendapat penguat saat berikutnya.
Skinner cenderung membuat ketentuan-ketentuan pembelajarannya dengan amat bertahap sehingga siswa jarang atau tidak akan membuat kekeliruan dan pada setiap item siswa membuat respon yang benar dan mendapat penguatan. Sungguhpun demikian, buku latihan terpogram ini berbeda dengan buku latihan seperti biasanya dari segi bahwa di sini semua pengajaran disampaikan melalui item-item terpogram, dan bukan berfungsi sebagai pendukung pelajaran dan buku  ajar.kumpulan itemnya disamping untuk direspon siswa juga mengandung informasi yang diperlukan untuk membuat respon tersebut. Rancangan ini selanjutnya mendorong  pembuat program untuk menyusun rangkaian item-item itu dengan cara seksama agar sesuai dengan apa yang memang perlu dipelajari siswa dan agar hal itu bisa disajikan dengan cara terbaik. 
Dalam hal ini, penguat sekunder sangat penting, sebab penguat ini biasanya  dipakai di kelas. Contohnya adalah pujian, ekspresi wajah yang menyenangkan, pemberian penghargaan, menghargai  kesuksesan, memberi nilai, peringkat, dan memberi kesempatan murid untuk mengerjakan sesuatu yang diinginkannya.

Skinner dalam Hergenhahn dan Olson (2008:129) mengemukakan bahwa sukses dan kemajuan adalah hal yang akan dihasilkan oleh instruksi yang terpogram. Hal inilah yang akan membuat pengajaran menjadi profesi yang layak dan mulia. Siswa bukan hanya harus belajar tetapi juga harus tahu bahwa mereka sedang belajar. Demikian pula guru bukan hanya harus mengajar tetapi juga harus tahu bahwa mereka sedang mengajar. Kejemuan dan kelesuan biasanya adalah akibat dari penanganan terhadap murid secara keliru, tetapi itu mungkin juga akibat dari penggunaan cara-cara lama. Sayangnya komunitas juga tak menyadarinya, salah satu usulan perbaikan pendidikan adalah dengan memberi penghormatan kepada guru, tetapi cara ini terbalik, yang benar adalah para guru mesti mengajar dua kali lebih baik, dan penghormatan akan datang dengan sendirinya.




DAFTAR PUSTAKA


Hamalik, Oemar. (2004). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Hergenhahn,  B. R. & Mathew H. Olson. (2008). Theories of Learning (Teori Belajar). Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.

Hill, Winfred F. (2011). Theories of learning. Bandung : Nusamedia.

Sagala,Syaiful (2013). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta