Teori Belajar Bermakna dari David P. Ausubel

Teori Belajar Bermakna dari David P. Ausubel
 http://math-succes.blogspot.com/ 

I.    PENDAHULUAN
Mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan (2005), salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh guru/pendidik sebagai agen pembelajaran adalah “Kompetensi Pedagogis.”. artinya guru sebagai agen pembelajaran tidak hanya memiliki tugas dan tanggung jawab mentransfer pengetahuan kepada pelajar melainkan harus mampu mendidik untuk mengembangkan keseluruhan potensi yang dimiliki pelajar serta memahami proses belajar yang terjadi pada diri pelajar, sehingga guru perlu menguasai hakikat dan konsep dasar belajar, dan mampu menerapkan dalam kegiatan pembelajaran, karena fungsi pembelajaran adalah memfasilitasi tumbuh berkembangnya belajar dalam diri peserta didik. Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidik nasional, secara legal formal memberikan pengertian tentang pembelajaran. Dalam pasal 1 butir 20 pembelajaran diartikan sebagai”...proses interaksi peserta didik dengan  pendidik dan sumber belajar pada lingkungan belajar”.
Proses pembelajaran menurut Teori kognitif berasal dari teori kognitif dan teori psikologi. Aspek kognitif mempersoalkan  bagaimana seseorang memperoleh pemahaman, bagaimana  pemahaman mengenai dirinya dan lingkungannya dan bagaimana ia berhubungan dengan lingkungan secara sadar.  David Paul Ausubel, seorang tokoh ahli psikologi kognitif yang dilahirkan di New York pada tahun 1918. Sebagai salah satu tokoh ahli psikologi kognitif, David Ausubel mengembangkan teori psikologi kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum. Ia meninggal pada pada tanggal 9 Juli 2008. (www.davidausubel.org)
Ausubel sebagaimana pernyataannya yang dikutip Bell (1978:132) berikut: “…, if the learner’s intention is to memorise it verbatim, i,e., as a series ofarbitrarily related word, both the learning process and the learning outcome must necessarily berote and meaningless.” Artinya, jika seseorang contohnya , mempuyai keinginan untuk mempelajari sesuatu tanpa mengaitkan hal yang satu dengan hal yang lain yang sudah diketahuinya maka baik proses maupun hasil pembelajarannya dapat dinyatakan sebagai hafalan dan tidak akan bermakna sama sekali baginya. Menurut teori belajar kognitif pada dasarnya setiap orang dalam bertingkah laku dan mengerjakan segala sesuatu senantiasa di pengaruhi oleh tingkat –tingkat perkembangan dan pemahamannya atas dirinya sendiri. dan lingkungannya dan bagaimana ia berhubungan dengan lingkungan secara sadar. 
David Ausubel (1963) seorang ahli psikologi pendidikan menyatakan bahwa bahan pelajaran yang dipelajari harus “bermakna’ (meaningfull). Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengkaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan dingat pelajar. Belajar bermakna menurut Ausubel (1963) merupakan proses mengaitkan informasi atau materi baru dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kebermaknaan dalam suatu pembelajaran, yaitu struktur kognitif yang ada, stabilitas dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Sehubungan dengan hal ini, Dahar (2011) mengemukakan dua prasyarat terjadinya belajar bermakna, yaitu: (1) materi yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial, dan (2) anak yang akan belajar harus bertujuan belajar bermakna. Di samping itu, kebermaknaan potensial materi pelajaran bergantung kepada dua faktor, yaitu (1) materi itu harus memiliki kebermaknaan logis, dan (2) gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif peserta didik.
 Dengan latar belakang diatas maka akan dibahas bagaimana teori pembelajaran matematika menurut aliran psikologi kognitif yaitu:Teori Belajar Bermakna dari David P. Ausubel



I.                   PEMBAHASAN

A.      Belajar Menurut Ausubel
1.      Dimensi Belajar
Menurut Ausubel dalam Andriyani (2008, 3.20) menyatakan bahwa pada dasarnya orang memperoleh pengetahuan melalui penerimaan, bukan melalui penemuan. Konsep – konsep, prinsip dan ide-ide yang disajikan pada pelajar akan diterima oleh pelajar. Dapat juga konsep ini ditemukan sendiri oleh pelajar (Gagne dalam Andriyani, 2008, 3.20).
Menurut Ausubel dalam Dahar (2011, 94), belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi, yaitu :
1.      Dimensi Pertama
Berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran yang disajikan pada pelajar melalui penerimaan atau penemuan. Pada tingkat pertama dalam belajar, informasi dapat dikomunikasikan dalam bentuk belajar penerimaan yang menyajikan informasi itu dalam bentuk final ataupun dalam bentuk belajar penemuan yang mengharuskan pelajar untuk menemukan sendiri sebagian atau seluruh materi yang akan diajarkan.
            Ausubel dalam Bell (1978, 131) menggambarkan belajar penerimaan dan belajar penemuan sebagai berikut :
Belajar penerimaan mempelajari isi pokok apa yang akan dipelajari dan disajikan kepada peserta didik dalam bentuk catatan, pembelajaran ini tidak melibatkan penemuan. Ia hanya diperlukan untuk menginternalisasi materi atau memasukkan ke dalam struktur kognitif nya sehingga tersedia untuk penggunaan lain dimasa mendatang. Faktor  penting dari belajar penemuan adalah bahwa kandungan utama dari apa yang dipelajari tidak diberikan tetapi harus ditemukan oleh peserta didik sebelum ia bisa menyimpannya. Setelah tahap ini selesai, isi ditemukan terinternalisasi seperti dalam pembelajaran reseptif (ekspositori).

            Ausubel dalam Thompson (2004, 2) menyatakan bahwa pentingnya perbedaan antara pembelajaran hapalan dan pembelajaran bermakna. Sebagai perbandingan antara pembelajaran penerimaan dan pembelajaran penemuan itu penting untuk diketahui meskipun pendekatan yang berlawanan pada pembelajaran sangat berbeda, itu tidak berada pada tingkat yang sama pentingnya dengan belajar bermakna.
            Pendukung pembelajaran penemuan menyatakan bahwa jenis pembelajaran ini dimana pengetahuan nyata diperoleh, penyimpanan memori terjamin, dan kesadaran subverbal pertama kali bertemu Langford dalam Thompson (2004, 2). Good dan Brophy dalam Thompson(2004, 2) menyatakan bahwa Bruner adalah pendukung terkemuka pembelajaran penemuan dan mengatakan bahwa pembelajaran yang paling bermakna terjadi ketika dimotivasi oleh rasa ingin tahu pelajar sendiri dan ditemukan oleh eksplorasi individu atau kelompok.
Sedangkan Ausubel dalam (Thompson, 2004, 2) menyatakan bahwa mereka yang berdiri di belakang pembelajaran penemuan dan mengkritik pengajaran ekspositori adalah mereka yang paling banyak kehilangan poin penting. Ini artinya, apakah metode dari pembelajaran adalah penemuan atau penerimaan tidaklah menentukan kebermaknaan materi.

2.        Dimensi Kedua
Menyangkut cara bagaimana pelajar dapat mengaitkan informasi pada struktur kognitif yang telah ada. Dalam tingkat kedua, pelajar menghubungkan atau mengaitkan informasi itu pada pengetahuan (berupa konsep) yang telah dimilikinya, dalam hal ini terjadi belajar bermakna.
            Menurut Budiningsih (2012, 43) teori-teori belajar yang selama ini masih banyak menekankan pada belajar asosiatif atau belajar menghapal, belajar demikian tidak banyak bermakna bagi pelajar. Budiningsih melanjutkan bahwa belajar seharusnya merupakan asimilasi yang bermakna bagi pelajar. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki pelajar dalam bentuk struktur kognitif.
Inti dari teori belajar Ausubel adalah belajar bermakna. Bagi Ausubel, belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat pada struktur kognitif seseorang (Dahar, 2011, 95). Belajar bermakna akan terjadi apabila informasi yang baru diterima pelajar mempunyai kaitan erat dengan konsep yang sudah ada / diterima sebelumnya dan tersimpan dalam struktur kognitifnya (Andriyani, 2008, 3.20-3.21). Lebih lanjut Andriyani menyatakan bahwa informasi baru ini juga dapat diterima atau dipelajari pelajar tanpa menghubungkannya dengan konsep atau pengetahuan yang sudah ada. Cara belajar ini disebut belajar menghapal.

Kedua dimensi di atas dapat dilihat pada bagan di bawah ini:

Bentuk-Bentuk Belajar
(Dahar, 2011,  94)

BELAJAR BERMAKNA
Menjelaskan hubungan antara konsep-konsep
Pengajaran audiotutorial yang baik
Penelitian ilmiah
Penyajian melalui ceramah atau buku pelajaran
Kegiatan laboratorium sekolah
Sebagian besar penelitian rutin atau produksi intelektual
BELAJAR HAFALAN
Daftar perkalian
Menerapkan rumus-rumus untuk memecahkan masalah
Pemecahan dengan coba-coba

BELAJAR PENERIMAAN
BELAJAR PENEMUAN TERPIMPIN
BELAJAR PENEMUAN MANDIRI

Dua Kontinum Belajar
(Dahar, 2011: 95)


Menurut Dahar (2011, 95), Ausubel menyatakan bahwa banyak ahli pendidikan menyamakan belajar peneriman dengan belajar hafalan sebab mereka berpendapat bahwa belajar bermakna hanya terjadi bila pelajar menemukan sendiri pengetahuan. Namun, bila memperhatikan gambar di atas, dapat dilihat bahwa belajar penerimaan pun dapat dibuat bermakna, yaitu dengan cara menjelaskan hubungan antara konsep-konsep. Sementara itu, belajar penemuan rendah kebermaknaanya dan merupakan belajar hafalan bila memecahkan suatu masalah dilakukan hanya dengan coba-coba, seperti menebak teka-teki
Biser (1984) menyatakan bahwa David P.Ausubel adalah seorang psikolog pendidikan yang percaya bahwa proses intelektual yang kompleks (berpikir, bahasa, pemecahan masalah, pembentukan konsep) adalah aspek utama pembelajaran. Ausubel menempatkan penekanan utama pada bagaimana seseorang mengatur pengalaman struktur kognitif yang hirarki terorganisir ke dalam kelompok konseptual yang sangat inklusif. Ausubel telah mengembangkan Teori Belajar Bermakna  dan turunannya yaitu Model Pengaturanan Awal dari Mengajar, sebagai sarana untuk memperkuat struktur kognitif pelajar.





1.           Tipe Belajar
Menurut Ausubel dan Robinson dalam Slameto (2010, 24) ada empat macam tipe belajar :
a.      Belajar menerima bermakna (Meaningful Reception Learning)
Belajar menerima bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada pelajar sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan yang baru itu dikaitkan dengan pengetahuan yang ia miliki.

b.      Belajar menerima yang tidak bermakna (Reception learning)
Belajar menerima yang tidak bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada pelajar sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan yang baru itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan yang ia miliki.

c.       Belajar penemuan bermakna (Meaningful discovery learning)
Belajar dengan penemuan bermakna yaitu mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajarinya atau pelajar menemukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru itu ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada.

d.      Belajar penemuan yang tidak bermakna (Discovery learning)
Belajar dengan penemuan tidak bermakna yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh pelajar tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya, kemudian dia hafalkan.

A.      Prasyarat Belajar Bermakna
Dahar (2011, 99) menyebutkan  prasyarat belajar bermakna adalah sebagai berikut:
a. Materi yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial
b. Anak yang akan melaksanakan belajar bermakna sebaiknya mempunyai kesiapan dan niat untuk belajar belajar.
          Dahar melanjutkan kebermaknaan materi pelajaran secara potensial bergantung pada dua faktor yaitu sebagai berikut:
a.       Materi itu harus memiliki kebermaknaan logis
b.      Gagasan-gagasan yang relevan harus terdapat dalam struktur kognitif pelajar.

         Oleh karena itu, agar terjadi belajar bermakna materi pelajaran harus bermakna secara logis. Pelajar harus memasukkan materi itu ke dalam struktur kognitifnya dan dalam struktur kognitif pelajar harus terdapat unsur-unsur yang cocok untuk mengaitkan materi baru secara non arbitrer dan substantif (Dahar, 2011, 100). Selanjutnya Rosser dalam Dahar (2011, 100) menyatakan bahwa jika salah satu komponen itu tidak ada, maka materi tersebut dipelajari secara hapalan.

B.     Faktor-Faktor Penghambat Belajar Bermakna
Menurut Bell (1978:133) ada beberapa faktor yang menghalangi pembelajaran bermakna :
1.      Pelajar mungkin tidak memproses tingkat perkembangan mental yang diperlukan untuk terjadinya pembelajaran bermakna dari beberapa konsep matematika.
2.      Pelajar mungkin tidak cukup termotivasi untuk mencoba belajar matematika dengan cara yang bermakna.
3.      Para guru diperdayakan sehingga mereka percaya bahwa definisi-definisi, aturan pemecahan masalah, dan langkah-langkah pembuktian teorema merupakan hal yang bermakna bagi pelajar

C.    Penerapan Teori Ausubel dalam Mengajar
            Dahar (2011, 100) mengatakan bahwa untuk dapat menerapkan teori Ausubel dalam mengajar, sebaiknya kita perhatikan apa yang dikemukakan oleh Ausubel dalam bukunya yang berjudul Educational Psychology: A Cognitive View, pernyataan itu berbunyi :The most important single factor influencing learning is what the learner already knows. Ascertain this and teach him accordingly." Ausubel mengatakan faktor terpenting yang mempengaruhi belajar ialah apa yang telah diketahui pelajar. Yakinilah hal ini dan ajarlah ia demikian."
Untuk menerapkan konsep belajar Ausubel dalam mengajar, selain konsep-konsep yang telah dibahas terdahulu ada beberapa konsep lain yang perlu diperhatikan yaitu konsep pengaturan awal, diferensiasi progresif, penyesuaian integratif, dan belajar superordinat (Dahar, 2011, 100).
Menurut Dahar (2011, 100-104) Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan untuk menerapkan teori Ausubel :
1) Pengaturan awal
Ausubel (2000, 11) mengatakan bahwa Pengaturan Awal adalah perangkat pedagogik yang membantu menerapkan prinsip-prinsip  dengan  menghubungkan kesenjangan antara apa yang pelajar sudah ketahui dan apa yang  perlu ia  ketahui. Pengaturan awal mengarahkan para pelajar ke materi yang akan mereka pelajari dan menolong mereka untuk mengingat kembali informasi yang berhubungan dengan materi itu, sehingga dapat digunakan dalam menanamkan pengetahuan baru. Pengaturanan awal ini berisi konsep-konsep atau ide-ide yang diberikan kepada pelajar jauh sebelum materi pelajaran yang sesungguhnya diberikan (Andriyani, 2008, 3.23).

Ada tiga hal yang dapat dicapai dengan menggunakan pengaturanan awal :
·         Pengaturanan awal memberikan kerangka konseptual untuk belajar yang bakal terjadi berikutnya
·         Dapat menjadi penghubung antara informasi yang sudah dimiliki  pelajar saat ini dengan informasi baru yang akan diterima/ dipelajari
·         Berfungsi sebagai jembatan penghubung sehingga memperlancar proses pengkodean pada pelajar
(Andriyani, 2008, 3.23)



2) Diferensiasi Progresif
Diferensiasi progresif artinya proses penyusunan konsep yang akan diajarkan. Menurut Ausubel dalam Dahar (2011, 101), pengembangan konsep berlangsung paling baik jika unsur-unsur yang paling umum atau paling inklusif diperkenalkan terlebih dahulu, kemudian baru diberikan hal-hal yang lebih mendetail dan lebih khusus dari konsep itu.  Dengan perkataan lain, model belajar menurut Ausubel pada umumnya berlangsung dari umum  ke khusus.

3). Belajar Superordinat
Dahar (2011, 103) menyebutkan belajar superordinat terjadi bila konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya dikenal sebagai unsur-unsur suatu konsep yang lebih luas, lebih inklusif. Sedangkan menurut Andriyani (2008, 3.23) untuk menerapkan strategi mengajar seperti ini perlu dilakukan analisis konsep. Lanjutnya Andriyani mengatakan analisis konsep dilakukan untuk menemukan kemudian menghubungkan konsep-konsep utama dari suatu mata pelajaran sehingga dapat diketahui mana konsep yang paling utama dan superordinat dan mana konsep yang lebih khusus dan subordinat.

4). Penyesuaian Integratif
Untuk mencapai penyesuaian integratif, materi pelajaran hendaknya disusun sedemikian rupa hingga kita menggerakkan hierarki konseptual dari atas hingga ke bawah selama informasi disajikan. Menurut Ausubel dalam Dahar (2011, 103), dalam mengajar bukan hanya urutan menurut diferensiasi progresif yang diperhatikan, melainkan juga harus diperlihatkan bagaimana konsep-konsep baru dihubungkan pada konsep-konsep superordinat. Andriyani (2008, 3.24) tahap ini guru menjelaskan dan menunjukkan secara jelas perbedaan dan persamaan materi yang baru dengan materi yang telah dijelaskan terlebih dahulu yang telah dikuasai pelajar. Dengan demikian pelajar akan mengetahui alasan dan manfaat materi yang akan dijelaskan tersebut.
            Dalam perkembangannya, belajar bermakna dapat diterapkan melalui berbagai cara pengajaran, misalnya pengajaran dengan menggunakan peta konsep (Andriyani, 2008, 3.24).

Adapun cara pembelajarannya menurut Andriyani (2008, 3.24) adalah sebagai berikut:
1.      Pilih suatu bacaan atau salah satu bab dari sebuah buku pelajaran.
2.      Tentukan konsep-konsep yang relevan dari topik yang akan atau sudah  diajarkan.
3.      Urutkan konsep-konsep tersebut dari yang paling inklusif ke yang paling  tidak inklusif berikut contoh-contohnya.
4.      Susun konsep-konsep tersebut di atas kertas dari konsep yang paling inklusif ke konsep yang tidak inklusif secara berurutan dari atas ke bawah.
5.      Hubungkan konsep-konsep ini dengan kata-kata sehingga menjadi sebuah peta konsep.

Berdasarkan langkah-langkah pembelajaran di atas, maka salah satu contoh peta konsep nya adalah sebagai berikut :

Menurut Ausubel dan Novak (Dahar, 2011,  98) ada tiga kebaikan belajar bermakna, yaitu :
1.      Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama diingat
2.      Informasi baru tyang telah dikaitkan dengan konsep-konsep relevan sebelumnya dapat meningkatkan konsep yang telah dikuasai sebelumnya sehingga memudahkan proses belajar mengajar berikutnya untuk memberi pelajaran yang mirip.
3.      Informasi yang pernah dilupakan setelah pernah dikuasai sebelumnya, meninggalkan bekas sehingga memudahkan proses belajar mengajar untuk materi pelajaran yang mirip walaupun telah lupa.


III.       PENUTUP

Menurut Ausubel, belajar dapat diklasifikasikan ke dalam dua dimensi yaitu berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran yang disajikan pada pelajar melalui penerimaan (reception learning) atau penemuan (discovery learning) dan menyangkut cara bagaimana pelajar dapat mengaitkan informasi itu pada struktur kognitif yang telah ada, yaitu belajar bermakna (meaningful learning) atau hafalan (rote meaningful). Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses yang mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
            Ausubel mengemukakan bahwa belajar menerima dan belajar menemukan adalah dua hal yang berbeda. Pada belajar menerima, isi pokok yang akan dipelajari diberikan kepada pelajar dalam bentuk catatan. Sedangkan dalam belajar penemuan, metode dan tujuan tidak sepenuhnya beriring.  Ausubel juga menjelaskan bahwa perbedaan antara belajar hafalan dan belajar bermakna sering dicampuradukkan dengan perbedaan antara belajar menerima dan belajar menemukan.


DAFTAR PUSTAKA

Andriyani, Dewi. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka

Ausubel. 2000. The Acquisition and Retention of Knowledge: A Cognitive View. New York : SPRINGER-SCIENCE+BUSINESS MEDIA, B.V

Bell, F.H. (1978). Teaching and Learning Mathematics. Lowa:WBC

Biser, Eileen. 1984. Application of Ausubel's Theory of Meaningful Verbal
Learning to Curriculum, Teaching and Learning of Deaf Students. Tersedia pada : http://files.eric.ed.govfulltextED247712.pdf diakses pada tanggal 15 Februari 2014

Budiningsih, Asri. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta

Dahar, Ratna Wilis. 2011. Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Erlangga

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Jakarta : Rineka Cipta

Thompson, Thomas. 2004.The Learning Theories of David P. Ausubel : The Importance of Meaningful and Reception Learning. Tersedia pada : http://ww2.coastal.edu/dsmith/edet720/ausubelref.htm diakses pada tanggal 14 Februari 2014