Teori Pembelajaran Menurut Aliran Psikologi Gestalt

Teori Pembelajaran Menurut Aliran Psikologi Gestalt

 http://math-succes.blogspot.com/

I.         Pendahuluan
1.1    Latar Belakang
Di era persaingan yang luar biasa secara mengglobal saat ini, pendidikan merupakan cara yang tepat menjadi modal awal suatu bangsa agar mampu bertahan di kancah internasional. Seseorang untuk mampu mengembangkan potensi yaitu melalui pembelajaran yang diterima di pendidikan. budaya belajar sudah tentu harus dikembangkan pula. Masalah belajar adalah masalah yang aktual yang dihadapi oleh setiap orang. Oleh karena itu banyak ahli-ahli membahas dan menghasilkan berbagai teori tentang belajar.
Wikipedia (dalam Mulyana, 2012:19) menjelaskan pembelajaran aliran psikologi Gestalt adalah pembelajaran harus dimulai dari masalah-masalah yang berkaitan dengan konsep yang akan diberikan dan berada dalam kehidupannya sehari-hari. Ketika mengkonstruksi konsep, anak harus banyak diberikan kesempatan untuk berdialog (berdiskusi) dengan teman-temannya maupun dengan guru, bereksplorasi, dan diberikan kebebasan bereksperimen.
Pandangan akan teori pembelajaran menurut para ahli tertentu akan menentukan bagaimana seharusnya menciptakan belajar itu sendiri. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak faktor yang mempengaruhi terbentuknya belajar. Sehingga, makalah ini membahas tentang salah satu teori pembelajaran menurut psikologi Gestalt.


II.      Pembahasan
2.1 Tokoh-tokoh Gestalt
Pendiri awal teori belajar Gestalt adalah Max Wetheimer (1880-1943) dan bekerja sama dengan dua tokoh lainnya yang dianggap juga pendiri teori belajar Gestalt yaitu Wolfgang Kohler (1887-1967) dan Kurt Koffka (1886-1941). Ketiga tokoh tersebut memiliki kontribusi sendiri dalam teori Gestalt (Hergenhahn, 2008:281).


2.2  Pengertian Teori Gestalt
Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Gestalt merupakan aliran yang mengembangkan paradigma pemikiran yang berpijak pada kerangka menyeluruh dalam melihat obyek, khususnya dalam proses belajar, Karena itu, perlu diingat bahwa psikologi Gestalt utamanya berminat pada persepsi dan proses problem solving. (Hidayati, 2012).

2.2.1 Max Wetheimer
Max Wetheimer mengemukakan penemuan awalnya tentang Gestalt yaitu ketika sedang naik kereta api. Dia mendapatkan gagasan bahwa jika dua cahaya berkedip-kedip pada tingkat tertentu, cahaya itu akan memberikan kesan bagi pengamatnya bahwa satu cahaya itu bergerak maju dan mundur. Kemudian akhirnya dia membeli alat Stroboscope, dan melakukan eksperimen di kamar hotelnya. Dengan menggunakan alat yang bernama stroboskop, yaitu alat yang berbentuk kotak dan diberi suatu alat untuk dapat melihat ke dalam kotak itu. Di dalam kotak terdapat dua buah garis yang satu melintang dan yang satu tegak. Kedua gambar tersebut diperlihatkan secara bergantian, dimulai dari garis yang melintang kemudian garis yang tegak, dan diperlihatkan secara terus menerus. Kesan yang muncul adalah garis tersebut bergerak dari tegak ke melintang. Gerakan ini merupakan gerakan yang semu karena sesungguhnya garis tersebut tidak bergerak melainkan dimunculkan secara bergantian. Max Wetheimer menamakan ilusi tersebut dengan phi phenomena, yaitu bergeraknya objek statis menjadi rangkaian gerakan yang dinamis setelah dimunculkan dalam waktu singkat dan dengan demikian memungkinkan manusia melakukan interpretasi. Wetheimer menunjuk pada proses interpretasi dari sensasi obyektif yang kita terima. 
Jadi Gestatis percaya bahwa organisme menambahkan sesuatu pada pengalaman, di mana sesuatu itu tidak ada dalam data yang diindera, dan sesuatu itu adalah tindakan menata (organisasi data). Kata Gestalt berasal bahasa Jerman yang berarti konfigurasi atau organisasi. Gestalt merupakan keseluruhan yang penuh arti. Manusia tidak dapat menghayati stimulus-stimulus secara terpisah, tetapi stimulus itu secara bersama-sama serempak ke dalam konfigurasi yang penuh arti. Keseluruhan itu lebih dari jumlah bagian-bagiannya.
Prinsip umum  gestalt berbunyi:
1)      Keseluruhan adalah primer atau  utama, dan bagian atau unsur merupakan hal skunder atau bukan hal pokok
2)      Bagian atau unsur tidak mempunyai makna bila tidak dalam konteks keseluruhan
3)       Keseluruhan bukan sekedar penjumlahan dari bagian
Max Wertheimer (dalam Nurjanah, 2013:1) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving, dari pengamatannya ia menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah, dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian bukan hafalan akademis.
Sebagai usaha untuk memperbaiki proses belajar, Wax Wertheimer (Soemanto, 2012:224) menggunakan rote learning dengan pengertian; bukan menghafal. Kemudian bersama Kohler, mereka menyatakan bahwa siswa yang belajar harus dapat memperoleh pengertian, pemahaman (insignt) dari hubungan antara bagian-bagian dan keseluruhannya.

2.2.2 Kurt Koffka
Kurt dan Kohler bekerja bersama dengan Wertheimer selama tiga semester. Disanalah pula ia mulai menulis yang kemudian menjadi sangat berpengaruh dalam mempopulerkan psikologi Gestalt. Ia merupakan penulis terkenal dari kelompok Berlin. Seperti Wertheimer dan Kohler, Koffka menghabiskan banyak waktunya untuk memberi kuliah di Amerika sebelum akhirnya berpindah secara permanen pada tahun 1927. Ia mengajar di Smith Collage dan terus menulis, salah satu buku kreatifnya adalah ’’Grown of The Mind”, sebuah buku yang sangat relevan dengan prinsip-prinsip gestalt. Tahun 1925 dia mempublikasikan Principles of Gestalt Psycology, sistem utama di dalam psikologi Gestalt. 

Menurut para ahli psikologi Gestalt, manusia bukan sekedar makhluk reaksi yang hanya akan berbuat atau bereaksi jika ada perangsang yang mempengaruhinya. Manusia adalah individu yang merupakan kebulatan jasmani rohani. Sebagai individu, manusia bereaksi atau berinteraksi dengan dunia luar melalui caranya sendiri. Secara pribadi, manusia tidak secara langsung bereaksi kepada suatu perangsang dan tidak pula reaksinya itu dilakukan secara membabi buta atau secara trial and eror. Reaksi manusia terhadap dunia luar tergantung kepada bagaimana ia menerima stimuli dan bagaimana serta apa motif-motif yang ada padanya. Manusia adalah makhluk yang mempunyai kebebasan. Ia bebas memilih cara bagaimana ia bereaksi dstimuli mana yang diterimanya dan mana yang ditolaknya ( dalam Dewi, 2013).

2.2.3 Wolfgang Kohler
Yang memuat tentang eksperimentasinya mengenai kera dan ayam untuk mengetes berbagai masalah yang berkaitan dengan relajar, Kohler menggunakan sejumlah rangkaian eksperimen, yaitu:
a)        Detour Problem
Dalam detour  Problem, binatang dapat dengan melihat makanan sebagai tujuan. Tetapi tidak dapat mencapai secara langsung. Ia harus putar jalan melalui jalan samping yang lebih jauh, tidak langsung, untuk mencapai pemecahan, sedang simpanse relatif lebih mudah. Binatang yang lebih tinggi tingkatannya, akan lebih cepat dalam memecahkan problem. Proses menguasai medan dan mengetahui hubungan lebih cepat
 http://math-succes.blogspot.com/ 

a)        b. Percobaan dengan simpanse
http://math-succes.blogspot.com/

  http://math-succes.blogspot.com/
Eksperimen I
Simpanse dimasukkan dalam sangkar dan di dalam sangkar diletakkan satu tongkat. Kemudian di luar sangkar diberi pisang yang jaraknya telah diatur sehingga pisang tersebut tidak mungkin diraih dengan tangannya. Pisang yang ada di luar sangkar hanya dapat diambil apabila simpanse itu menggunakan tongkat yang ada di dalam sangkar. Pada awalnya simpanse mencoba berkali-kali mengambil pisang dengan tangannya tetapi tidak berhasil. Kemudian akhirnya simpanse tiba-tiba mengambil tongkat yang ada di dalam sangkar untuk  mengambil pisang yang ada di luar sangkar dan simpanse berhasil mengambil pisang yang ada di luar sangkar dengan tongkatnya.


 Eksperimen II
Eksperimen II sama dengan eksperimen I, perbedaanya dalam sangkar diletakkan dua tongkat dan pisang yang ada di luar sangkar jaraknya dijauhkan sehingga pisang tersebut tidak mungkin diraih dengan tangan simpanse atau dengan satu tongkat. Untuk meraih pisang yang ada di luar sangkar, simpanse harus mengambilnya dengan menyambung dua tongkat yang ada di dalam sangkar. Pada awalnya simpanse mencoba berkali-kali mengambil pisang dengan satu tongkat tetapi tidak berhasil. Kemudian tiba-tiba simpanse menyambung dua tongkat yang ada di dalam sangkar dan simpanse berhasil mengambil pisang yang ada di luar sangkar dengan menyambung dua tongkat dalam sangkar.

 Eksperimen III
Simpanse dimasukkan dalam sangkar dan di sudut sangkar diletakkan satu kotak yang kuat untuk dinaiki simpanse. Kemudian di atas sangkar digantung pisang yang jaraknya telah diatur sehingga pisang tersebut tidak mungkin diraih dengan tangan simpanse. Pada awalnya simpanse mencoba berkali-kali mengambil pisang dengan tangannya tetapi tidak berhasil. Akhirnya simpanse mengambil dan menyusun kotak yang ada di sudut sangkar, kemudian simpanse berdiri di atas kotak dan berhasil mengambil pisang yang digantung dengan tangannya.

 Eksperimen IV
Eksperimen IV sama dengan eksperimen III. Perbedaannya, di  dalam sangkar diletakkan dua kotak yang kuat untuk dinaiki simpanse. Kemudian di atas sangkar digantung pisang yang jaraknya telah diatur sehingga pisang tersebut tidak mungkin diraih dengan tangan simpanse. Pisang yang digantung itu hanya dapat diambil jika simpanse berhasil menyusun dua kotak untuk dinaiki. Pada awalnya simpanse mencoba berkali-kali mengambil pisang dengan berdiri di atas satu kotak dan gagal. Akhirnya simpanse berhasil menyusun kotak dan berdiri di atas kotak tersebut dan simpanse berhasil mengambil pisang yang digantung dengan tangannya.


c)        Percobaan dengan Ayam
Ayam dibentuk untuk mendekati warna kertas yang agak gelap dan tidak mendekati warna terang. Setelah dilatih secukupnya, bila ayam diberi pilihan untuk memilih terang dan agak gelap, ayam akan memilih gelap (karena hasil latihan). Periode berikutnya, bila ayam diberi pilihan untuk memilih yang agak gelap dengan gelap, maka ayam akan memilih mendekati gelap (tidak memilih yang agak gelap seperti dilatihkan). Apabila kita berfikir secara behavioristik, ayam itu mestinya memilih yang agak gelap sesuai dengan latihan. Tetapi Gestalt berpendapat bahwa ayam itu menemukan prinsip mana yang lebih gelap. Dengan demikian, bila diberi pilihan antara gelap dan gelap sekali, maka akan memilih gelap sekali. Jadi jelas bahwa dalam belajar itu yang terpenting adalah menemukan prinsip, sehingga mudah terjadi transposition (Bila suatu prinsip belajar dalam situasi pemecahan problem diterapkan kepada pemecahan problem lain).

2.2    Prinsip Belajar menurut teori Gestalt
Adapun prinsip-prinsip belajar menurut teori Gestal adalah:
1.    Belajar berdasarkan keseluruhan
Orang berusaha menghubungkan suatu pelajaran dengan pelajaran lainnya sebanyak mungkin.
2.    Belajar adalah suatu proses perkembangan
Anak-anak baru dapat mempelajari dan merencanakan bila ia telah matang untuk menerima bahan pelajaran itu. Manusia sebagai organisme yang berkembang, kesediaan mempelajari sesuatu tidak hanya ditentukan oleh kematangan jiwa batiniah, tetapi juga perkembangan karena lingkungan dan pengalaman.
3.    Siswa sebagai organisme keseluruhan
Siswa belajar tidak hanya inteleknya saja, tetapi juga emosional dan jasmaniahnya. Dalam pengajaran modern guru di samping mengajar, juga mendidik untuk membentuk pribadi siswa.
  4.    Terjadi Transfer
Belajar pada pokonya yang terpenting pada penyesuaian pertama ialah memperoleh respon yang tepat. mudah atau sukarnya problem itu terutama adalah masalah pengamatan, bila dalam suatu kemampuan telah dikuasai betul-betul maka dapat dipindahkan untuk kemampuan yang lain.
5.    Belajar adalah reorganisasi pengalaman
Pengalaman adalah suatu interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Belajar itu baru itmbul bila seseorang menemui suatu situasi/soal baru. Dalam menghadapi itu ia akan menggunakan segala pengalaman yang telah dimiliki.
6.    Belajar harus insight
Insight adalah suatu saat dalam proses belajar di mana seseorang melihat pengertian tentang sangkut-paut dan hubungan-hubungan tertentu dalam unsur yang mengandung suatu problem.
7.    Belajar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan dan tujuan siswa
Hal tersebut akan terjadi bila berhubungan dengan apa yang diperlukan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Di sekolah progresif, siswadiajak membicarakan tentang proyek/unit aga tahu tujuan yang akan dicapai dan yakin akan manfaatnya
8.    Belajar berlangsung terus-menerus
Siswa memperoleh pengetahuan tak hanya di sekolah tetapi juga di luar sekolah, dalam pergaulan; memperoleh pengalaman sendiri-sendiri, karena itu sekolah harus bekerja sama dengan orang tua di rumah dan masyarakay, agar semua turut serta membantu perkembangan siswa secara harmonis.
                                                                                                  (dalam Salmeto, 2010)


2.2  Prinsip-prinsip organisasi menurut teori Gestalt
Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :
  1. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.
  2. Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
  3. Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.
  4. Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.
  5. Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan.
  6. Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.
  7. Principle of Isomorphism: Organisasi berdasarkan konteks.
(dalam Sudrajat, 2008)



2.2  Pokok-Pokok Teori Belajar Menurut Aliran Gestalt
2.5.1    Pandangan Gestalt Tentang Belajar dan The Memory Trace (Kesan Ingatan)
Menurut teori Gestalt, belajar adalah berkenaan dengan keseluruhan individu dan timbul dari interaksinya yang matang dengan lingkungannya. Melalui interaksi ini, kemudian tersusunlah bentuk-bentuk persepsi, imajinasi dan pandangan baru. Kesemuanya, secara bersama-sama membentuk pemahaman atau wawasan (Insight), yang bekerja selama individu melakukan pemecahan masalah. (Hidayati, 2012)
Walaupun demikian pemahaman (insight) itu barulah berfungsi kalau ada persepsi/tanggapan terhadap masalahnya, memahami kesulitan, unsur-unsur dan tujuannya. Sementara itu, dalam belajar menurut Gestaltis prinsipnya berkaitan dengan proses berfikir (proses problem solving) dan persepsi. Dalam hal ini terdapat empat prinsip yang dikembangkan oleh Wertheimer dan kemudian diaplikasikan Kohler mengenai berfikir dan persepsi. Persepsi adalah kemampuan manusia untuk mengenal dan untuk memahami apa yang tidak diketahuinya. Penerimaan sesuatu berarti bahwa manusia dapat mengingat pengalaman-pengalaman, objek atau kejadian masa lalu.
Tetapi ada problem khusus di dalam belajar dimana Gestaltis menguraikan gagasan-gagasannya, mendiskusikan memori manusia daripada eksperimen kondisioning pada binatang, sehingga hampir semua ilustrasi yang mengikutinya, berkaitan dengan memori manusia. Problem utamanya adalah bagaimana untuk menghadirkan memori yaitu bagaimana melakukan konseptualisasi pengalaman masa lalu kedalam masa kini. Hal ini diurai dalam sebuah teori yang disebut teori bekas.  
Wulf (Hidayati, 2012) mendiskripsikan kecenderungan organisasional dari memori dengan memberi nama penyamarataan (leveling), Penajaman (Sharpening),dan normalisasi (Normalizing).
Penyamarataan (leveling) adalah kecenderungan menuju simetri atau menuju pendangan yang simpel dari kepelikan pola perseptual. Koffka mengasumsikan bahwa proses levelling juga dapat diterapkan pada persoalan kognitif. Sebagai contoh, kita mengingat perasaan perjalanan di kereta api, seseorang bisa mengingat impresi yang menyamaratakan gerakan maju (kereta api) dan wilayah pedalaman yang meluas dengan tanpa pengingatan sensasi dari goyangan (kereta api) ke sisi yang satu dan sisi yang lain.
Penajaman (Sharpening) adalah tindakan penekanan pada ketiadaan perbedaan pola. Ini kelihatan pada satu dari karakteristik memori manusia bahwa kualitasnya paling jelas memberikan identitas objek yang cenderung untuk dibesar-besarkan di dalam reproduksi objek itu.
Normalisasi (normalizing) terjadi ketika objek yang direproduksi dimodifikasi agar sesuai dengan memori sebelumnya. Modifikasi ini biasanya cenderung menuju pengingatan kembali objek yang lebih banyak seperti apa objek itu muncul.

Reproduksi berikutnya dari objek stimulus yang sama melebihi waktu sebelum menjadi makin besarseperti sesuatu yang umum (dan sebab itu sesuatu itu menjadi ”normal”). Disisi lain, para gestaltis memberikan perhatian yang agak terdistorsi dalam perlakuan konvensional terhadap belajar, sehingga problem khusus yang ditekankan adalah bukan seleksi secara natural bentuk problem dari sudut pandang mereka. Beberapa problem yang menjadi perhatian Gestalt antara lain sebagai berikut:
a.  Kecakapan (Capacity)
Karena belajar memerlukan pembedaan dan restrukturisasi persoalan, kondisi yang lebih tinggi dari belajar sangat banyak bergantung pada kecakapan alamiah untuk memberi reaksi dalam kebiasaan itu. Dengan meningkatkan kecakapan untuk organisasi perseptual atau kemampuan untuk memahami problem-problem yang mengarahkan untuk meningkatkan kemampuan belajar.
b.  Praktek (Practice)
Memori kita adalah bekas yang dinyatakan (secara positif tanpa bukti) dari persepsi. Hukum perseptual juga menentukan hubungan elemen-elemen di dalam memori. Karena itu, pengulangan pengalaman akan membangun secara kumulatif pada pengalaman-pengalaman yang lebih dulu hanya jika kejadian yang kedua dianggap sebagai sesuatu keadaan pemunculan dari pengalaman terdahulu.
c.  Motivasi (Motivation)
Gestalt percaya bahwa akibat yang datang kemudian tidak terjadi secara otomatis dan tanpa di sadari untuk memperkuat tindakan sebelumnya. Motivasi dipandang sebagai penempatan suatu organisme ke dalam situasi problem: rewards dan punishment memerankan untuk memperkuat atau tidak memperkuat solusi terhadap problem yang diusahakan.
d.  Pemahaman (Understanding)
Pemahaman hubungan, kesadaran hubungan antara bagian-bagian dan keseluruhan, berhubungan dengan konsekuensi, ditekankan oleh para penulis Gestalt.
e.  Transfer (Transfer)
Konsep Gestalt lebih mengarah pada transfer perubahan. Pola hubungan dipahami di situasi yang bisa diterapkan pada situasi yang lain. Satu keuntungan dari belajar yaitu dengan pemahaman, lebih baik daripada penghafalan tanpa berfikir. Sebab, pemahaman dapat merubah jarak situasi yang lebih dalam, dan lebih sering menyebabkan aplikasi yang salah dari belajar yang sudah-sudah. 
f.  Pelupaan (forgetting)
Pelupaan dihubungkan dengan bagian perubahan di dalam bekas. Bekas bisa tidak kelihatan melalui pengurangan secara gradual (kemungkinan susah untuk membuktikan atau tidak), melalui perusakan karena sebagian kacau balau, bidang yang terstruktur sakit, atau karena asimilasi pada bekas atau proses baru.



2.5.2        Hukum-hukum Pengamatan (Hukum-hukum Belajar) Menurut Aliran Gestalt
Karena asumsi bahwa hukum-hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer pada hal belajar, maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu. Menurut aliran Gestalt ada satu hukum pokok, yaitu Hukum Pragnanz yaitu suatu prinsip yang menyatakan kecenderungan terhadap apapun yang dipandang untuk menerima kemungkinan kondisi yang paling baik. Hukum pragnanz digunakan sebagai petunjuk prinsip dalam mempelajari persepsi belajar dan ingatan. dan hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum yang pokok itu, yaitu:
1)        Hukum Keterdekatan (law of proximity)
Dalam kita mengamati, obyek-obyek yang berdekatan satu sama lain akan nampak sebagai satu unit persepsi. Dengan demikian hal-hal yang saling berdekatan dalam waktu atau tempat cenderung dianggap sebagai suatu totalitas. Contohnya:
Garis-garis di atas akan terlihat sebagai tiga kelompok garis yang masing-masing terdiri dari dua garis, ditambah dengan satu garis yang berdiri sendiri di sebelah kanan sekali.
 
  
2)        Hukum Ketertutupan (law of closure)
Menyatakan bahwa kita mempunyai tendensi untuk melengkapi atau mengisi pengalaman-pengalaman yang tidak lengkap, agar menjadi lebih berarti. Atau hal-hal yang cenderung menutup akan membentuk kesan totalitas tersendiri. Contohnya:
 

   Gambar garis-garis di atas akan dipersepsikan sebagai dua segi empat dan garis yang berdiri sendiri di sebelah kiri, tidak dipersepsikan sebagai dua pasang garis lagi setelah ada garis melintang yang hampir saling menyambung di antara garis-garis tegak yang berdekatan.


3)        Hukum Kesamaan (law of equivalence)
Dalam kita melakukan pengamatan, maka obyek-obyek yang mempunyai kemiripan (similarity) satu sama lain akan diorganisir ke dalam satu persepsi. Dengan kata lain hal-hal yang mirip satu sama lain, cenderung kita persepsikan sebagai suatu kelompok atau suatu totalitas. Contohnya:
 
 
Deretan bentuk di atas akan cenderung dilihat sebagai deretan-deretan mendatar dengan bentuk O dan X berganti-ganti bukan dilihat sebagai deretan-deretan tegak.


4) Hukum kontinyuitas
Bahwa hal-hal yang kontiyu atau yang merupakan kesinambungan (kontinyuitas) yang baik akan mempunyai tendensi untuk membentuk kesatuan atau Gestalt. Contohnya:
 

 Pada gambar diatas, kita akan cenderung mempersepsikan gambar sebagai dua garis lurus berpotongan, bukan sebagai dua garis menyudut yang saling membelakangi.

 

Suatu hukum yang terkenal dari teori Gestalt yaitu hukum Pragnanz, yang kurang lebih berarti teratur, seimbang, simetri, dan harmonis. Untuk menemukan Pragnanz diperlukan adanya pemahaman atau insight, menurut Ernest hilgard ada enam ciri dari belajar pemahamn ini yaitu :
1.        Pemahaman dipengaruhi oleh kemampuan dasar.
2.        Pemahaman dipengaruhi oleh pengalaman belajar yang lalu yang relevan.
3.        Pemahaman tergantung kepada pengaturan situasi, sebab insight itu hanya mungkin terjadi apabila situasi belajar itu diatur sedemikian rupa sehingga segala aspek yang perlu dapat diamati.
4.        Pemahaman didahului oleh usaha coba-coba, sebab insight bukanlah hal yang dapat jatuh dari langit dengan sendirinya, melainkan adalah hal yang harus dicari.
5.        Belajar dengan pemahaman dapat diulangi, jika sesuatu problem yang telah dipecahkan dengan insight lain kali diberikan lagi kepada pelajar yang bersangkutan, maka dia dengan langsung dapat memecahkan problem itu lagi.
6.        Suatu pemahaman dapat diaplikasikan atau dipergunakan bagi pemahaman situasi lain.
    (Khairani, 2013:69)

2.5.3    Memecahkan Problem (Problem Solving), Mendapatkan Pencerahan (Insight)
Dalam teori belajar menurut Gestalt, yang terpenting dalam belajar adalah adanya penyesuaian pertama, yaitu memperoleh respon yang tepat untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Belajar yang penting bukan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti/memperoleh insight (pemahaman).
Insight barulah berfungsi bila ada persepsi terhadap masalahnya. Hilgard (Hidayati, 2012) memberikan enam macam sifat khas belajar dengan insight, sebagai berikut: 

a.         Insight itu dipengaruhi oleh kemampuan dasar. Kemampuan dasar itu berbeda-beda dari individu yang satu ke individu yang lain.
b.        Insight itu dipengaruhi oleh pengalaman belajar masa lampau yang relevan. Walaupun insight itu tergantung kepada pengalaman masa lampau yang relevan, namun memiliki pengalaman masa lampau tersebut belum menjamin dapatnya memecahkan masalah.
c.         Insight hanya timbul apabila situasi belajar diatur sedemikian rupa, sehingga segala aspek yang perlu dapat diamati
d.        Insight bukanlah hal yang dapat jatuh dari langit dengan sendirinya, melainkan hádala hal yang harus di cari.  
e.         Belajar yang dengan Insight itu dapat diulangi.
f.         Insight yang telah sekali di dapatkan, dapat dipergunakan untuk menghadapi situasi-situasi yang baru.

 

2.6 Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran
Banyak praktek pendidikan dan pengajaran yang menggunakan dasar psikologi Ilmu Jiwa Gestalt.
  1. Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
  2. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
  3. Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
  4. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
  5. Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
           (dalam Sudrajat, 2008)
 

2.7       Kelebihan Dan Kekurangan Teori Gestalt
2.7.1    Kelebihan Teori Gestalt
a.         Menghasilkan individu atau anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi.
b.        Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik. Selain itu, latihan memecahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari.
c.         Peserta didik dapat aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai bagi dirinya. Guru berfungsi sebagai mediator, fasilitator dan teman yang membuat situasi menjadi kondusif untuk terjadinya konstruksi pengetahuan dari peserta didik.
Tytler (Hidayati, 2012) juga menambahkan bahwa dengan upaya mengimplementasikan teori belajar kognitif dalam rancangan Pembelajaran maka:
Ø  Siswa dengan mudah dapat mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri.
Ø  Siswa dapat dengan mudah berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif.
Ø  Siswa mempunyai kesempatan untuk mencoba gagasan baru.

2.7.2    Kelemahan Teori Gestalt
Selain jasa dan sumbangannya yang sangat berharga bagi belajar disekolah dengan insight, namun terdapat juga celah-celah kelemahan dan kekurangannya. Seperti halnya teori belajar koneksionisme, terhadap teori gestaltpun dapat diajukan pertanyaan, bolehkah belajar dengan insight itu dianggap sebagai prototipe belajar?
Dari satu segi, teori ini nampak menunjukkan beberapa kejadian belajar yang umum, sehingga lebih mudah menganalisisnya. Misalnya, kalau anak dibimbing untuk ”melihat ’ hubungan, seperti tambah dan kali, antara berat dan ”daya tarik” gaya berat, maka sering ia mampu memperlihatkan pemahaman.
Sedangkan dari segi yang lain, memang sulit menemukan pemahaman dalam mempelajari hal-hal yang sangat beragam. Misalnya: anak tidak dapat mempelajari nama tanam-tanaman atau bintang-bintang dengan insight. Dia tidak dapat membaca dengan insight, demikian pula dia tidak tidak dapat berbicara dengan bahasa asing. Siswa Biologi tidak dapat mempelajari struktur dan fungsi hewan dengan pemahaman.
Tegasnya, pemahaman itu tidak dapat menjadi prototipe untuk sejumlah belajar yang biasa dilakukan manusia. Barangkali, pemahaman barulah terjadi kalau kita belajar dengan ”pemecahan masalah”, walaupun dalam kenyataannya, tidak semua hal merupakan masalah, boleh jadi hanya merupakan fakta atau prinsip.





DAFTAR PUSTAKA


Hergenhahn & Olson, Matthew H. 2008. Theoties Of Learning. Jakarta: Kencana. 

Khairani, Makmun. 2013. Psikologi Belajar. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Soemanto, Wasty. 2012. Psikologi Pendidikan: Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Dewi, Sinta. 2013. Teori Belajar Gestalt Insight Learning. Tersedia pada http://sintadewi250892.wordpress.com/2013/05/28/teori-belajar-gestalt-insight-learning/. Diakses tanggal 14 Februari 2014.

Hidayati, Titin N. 2012. Implementasi Teori Belajar Pada Proses Pembelajaran.Tersedia pada http://jurnalfalasifa.files.wordpress.com/2012/11/1-titin-nur-hidayati-implementasi-teori-belajar-gestalt-pada-proses-pembelajaran.pdf. Diakses tanggal 14 Februari  2014.

Mulyana, Tatang. 2012. Kajian Pembelajaran Matematika Berdasarkan Pada Beberapa teori Belajar. Tersedia Pada http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._MATEMATIKA/195101061976031-TATANG_MULYANA/File_26_Kajian_Pembelajaran_Matematika_Berdasarkan_pada_Beberapa_Teori_Belajar.pdf. Diakses tanggal 14 Februari 2014.

Nurjannah, Amalia. 2013. Teori Pembelajaran Menurut aliran Psikologi Gestalt. Tersedia pada http://amalianurjannah.files.wordpress.com/2013/05/5-teori-pembelajaran-menurut-aliran-psikologi-gestalt.pdf. Diakses tanggal 14 Februari 2014.
 
Sudrajat, Akhmad. 20088. Teori Belajar. Tersedia Pada http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/02/teori-belajar/. Diakses Tanggal  14 Februari 2014.