Teori Tahap-Tahap Pembelajaran dari Jerome Bruner

 Teori Tahap-Tahap Pembelajaran dari Jerome Bruner

 http://math-succes.blogspot.com/

I.                   PENDAHULUAN
Jerome S. Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan psikologi belajar kognitif yang telah banyak menulis tentang teori belajar, proses pembelajaran dan filsafat pendidikan. Buku Bruner yang sangat diakui, The Process of Education, yang ditulis pada tahun 1959-1960, mencerminkan pemikiran saat ini dari masyarakat berkaitan dengan pendidikan dasar dan menengah. Dalam bukunya ini, Bruner menjelaskan tentang pentingnya mengajarkan struktur disiplin, kesiapan untuk belajar, berpikir intuitif dan analisis, dan motivasi untuk belajar. Bruner juga dikenal dengan model instruksional kognitif yang dikenal dengan model belajar penemuan.
Makalah ini membahas tentang teori tahap-tahap belajar dari Jerome Bruner. Pembahasan tersebut antara lain tentang Bruner dan teorinya dan tahap-tahap pembelajaran Bruner.

II.                BRUNER DAN TEORINYA
Bruner memusatkan perhatiannya pada masalah apa yang akan dilakukan manusia dengan informasi yang diterimanya dan apa yang dilakukannya sesudah memperoleh informasi yang diskret itu mencapai pemahaman yang memberikan kemampuan padanya (Dahar, 2011:74). Selain itu Bruner tidak mengembangkan teori belajar yang sistematis (Wiranataputra dkk., 2008:3.13). Hal tersebut disebabkan karena Bruner (1977:6) memandang bahwa manusia adalah pemroses, pemikir dan pencipta informasi. 
Dalam bukunya “Process of Education”, Bruner menekankan 4 hal penting dalam pembelajaran. 4 hal tersebut antara lain:
1.      Pentingnya suatu struktur
Ada dua cara dimana pembelajaran berfungsi untuk masa depan (Bruner, 1977:17) yaitu:
Ø  Dengan melalui penerapan spesifik untuk tugas-tugas yang mirip dengan apa yang dipelajarinya atau biasa disebut dengan transfer (pergantian) pelatihan atau ekstensi kebiasaan atau asosiasi.
Ø  Melalui transfer nonspesifik atau transfer prinsip-prinsip dan sikap pada pembelajaran sebelumnya membuat kinerja selanjutnya lebih efisien. Transfer prinsip bergantung pada penguasaan struktur materi pelajaran. Artinya, agar seseorang bisa mengenali penerapan atau ketidakpenerapan suatu ide untuk situasi baru dan untuk memperluas pembelajarannya sedemikian rupa, orang tersebut harus berpikir secara umum dari situasi atau fenomena itu sendiri.
Ada 4 hal umum dalam pembelajaran struktur dasar mata pelajaran (Bruner, 1977:23-24), antara lain:
a.       Pemahaman dasar membuat mata pelajaran lebih mudah dipahami. Hal ini berlaku tidak hanya berlaku dalam fisika dan matematika, tetapi juga ilmu sosial dan sastra.
b.      Memori (ingatan manusia). Dalam hal ini, pembelajaran struktur dasar memastikan bahwa hilangnya ingatan manusia bukan berarti menjadi suatu kerugian total apabila kita tetap merekonstruksi rincian-rincian ingatan yang diperlukan. Hal ini disebabkan karena struktur dasar atau prinsip yang baik tidak hanya untuk memahami fenomena saat ini saja akan tetapi juga untuk ingatan hari selanjutnya. Selain itu, berdasarkan pendapat Bruner, Bell (1981:138) memperjelas bahwa dengan mengingat detail suatu objek maka detail-detail tersebut akan menjadi suatu pola yang tentunya akan mudah untuk diingat.
c.       Pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar dan ide-ide yang menjadi jalan utama dalam “transfer pelatihan”. Untuk memahami sesuatu sebagai contoh spesifik dari kasus yang lebih umum adalah belajar bukan hanya pada hal tertentu saja, tetapi juga memahami model lainnya yang mungkin ditemui.
d.      Penekanan pada struktur dan prinsip-prinsip megajar adalah dengan terus-menerus memeriksa kembali materi yang diajarkan di sekolah dasar dan menengah sebagai suatu karakter dasar.
Berdasarkan penjabaran Bruner, Dahar (2011:74) mengemukakan bahwa hendaknya kurikulum memerhatikan struktur pengetahuan karena dapat menolong para siswa untuk melihat bagaimana fakta-fakta yang kelihatannya tidak memiliki hubungan dapat dihubungkan satu dengan yang lain dan pada informasi yang telah mereka miliki.
2.      Kesiapan untuk belajar
Ada tiga hal dalam kesiapan untuk belajar ini (Bruner, 1977:33), yaitu:
a.       Perkembangan intelektual. Penelitian tentang perkembangan intelektual anak menyoroti fakta bahwa pada setiap tahap perkembangan anak memiliki cara karakteristik untuk memandang dunia dan menjelaskan kepada dirinya sendiri. Dan menurut Bruner (Bell, 1981:139-140) perkembangan intelektual ditandai dengan enam karakteristik, yang pertama, terus meningkatnya kemampuan seseorang untuk memisahkan antara tanggapan dan stimuli spesifiknya; yang kedua, berkembangnya kemampuan menganalisis peristiwa eksternal ke dalam suatu struktur mental yang mana sesuai dengan lingkungan pelajar dan bantuan pelajar yang mana merupakan generalisasi dari suatu kejadian spesifik; karakteristik ketiga adalah terus meningkatnya kemampuan untuk menggunakan lambang dan kata-kata untuk mempresentasikan sesuatu yang mana telah dilaksanakan atau akan dilaksanakan di masa depan; yang keempat, pengembangan mental bergantung pada sistematis dan interaksi struktur antara para guru dan pelajar, siswa lain, orang tua, para guru sekolah, atau seseorang yang memilih untuk menjadi pelajar; yang kelima adalah mengajar dan belajar sangat dimudahkan dengan adanya penggunaan bahasa; karakteristik keenam ditunjukkan dengan meningkatnya kemampuan menangani beberapa variabel secara serempak.
b.      Tindakan pembelajaran. Belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung secara bersamaan. Yang pertama adalah proses memperoleh informasi baru, seringkali informasi tersebut merupakan pengalaman seseorang secara implisit maupun eksplisit. Proses yang kedua adalah transformasi, yaitu proses manipulasi pengetahuan untuk membuatnya sesuai dengan tugas-tugas baru. Proses yang ketiga adalah evaluasi, yaitu memeriksa apakah cara seseorang dalam memanipulasi informasi telah memadai atau belum.
c.       Spiral kurikulum. Banyak kurikulum yang direncanakan menggunakan panduan yang telah ditentukan. Akan tetapi pada saat kurikulum telah diputuskan, telah berkembang dan mengalami perubahan seringkali kurikulum tersebut akan kehilangan bentuk atau ide awalnya. Hal inilah yang menyebabkan perlu adanya peninjauan ulang terhadap tujuan kurikulum sehingga diharapkan adanya kesinambungan dengan idea atau bentuk awalnya.
3.      Berpikir intuitif dan analitis
Dalam Matematika, intuisi digunakan dalam dua arti yang berbeda. Di satu sisi, seseorang dikatakan berpikir intuitif ketika setelah bekerja pada waktu yang lama pada satu masalah dan secara tiba-tiba mendapatkan suatu solusi walaupun belum memberikan bukti formal. Di sisi lain, seorang individu dikatakan ahli matematika intuitif jika ketika seseorang bertanya maka dia bisa dengan cepat memberikan jawaban akan pertanyaan itu. Secara karakteristik, berpikir analisis terjadi serentak menggunakan langkah-langkah yang eksplisit dan biasanya dlaporkan secara memadai oleh pemikir ke individu lain.
Berbeda dengan pemikiran analitik, berpikir intuitif tidak melalui langkah-langkah yang telah ditetapkan. Pemikir intuitif cenderung melihat suatu masalah berdasarkan apa yang tampak pada persepsi implisitnya. Pemikir intuitif biasanya secara tiba-tiba memperoleh suatu jawaban, mungkin benar atau salah. Melalui berpikir intuitif, seseorang sering mendapatkan solusi masalah yang mana belum tercapai sebelumnya. Pencapaian menggunakan pemikiran intuitif selanjutnya harus diperiksa menggunakan metode analitik karena pemikir intuitif biasanya dapat menciptakan atau menemukan masalah yang tidak bisa ditemukan oleh pemikir analisis. Seseorang yang berpikir intuitif mungkin sering mencapai solusi yang benar, akan tetapi ia juga mungkin terbukti salah ketika dia atau orang lain memeriksa kembali solusi hasil pemikirannya tersebut.


4.      Motivasi untuk belajar
Motivasi berkaitan erat dengan keinginan untuk belajar dan bagaimana hal tersebut bisa dirangsang.

III.             TAHAP-TAHAP PEMBELAJARAN BRUNER
Ada tiga tahap pembelajaran menurut Bruner, yaitu:
1.      Tahap Enaktif (Konkret)
Tahapan ini bersifat manipulatif (Dahar, 2011:78). Dalam hal ini seseorang mengetahui suatu aspek kenyataan tanpa menggunakan pikiran atau kata-kata dimana dalam proses belajarnya menggunakan atau memanipulasi obek-objek secara langsung. Tahapan ini berkaitan dengan bagaimana seseorang melakukan sesuatu dan serangkaian tindakan dalam mencapai suatu hasil (Kristinsdottir, 2008). Dimana tindakan tersebut merupakan aktivitas-aktivitas yang dilakukan seseorang (seperti melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya) dalam upaya memahami lingkungan sekitar.
Contoh:
Ø  Dalam pembelajaran materi penjumlahan dua bilangan cacah, guru menyuruh siswa menggabungkan 3 mangga dengan 2 mangga kemudian menghitung banyaknya semua kelereng tersebut.
Ø  Seorang anak yang mengatur keseimbangan timbangan dengan jalan menyesuaikan kedudukan badannya walaupun anak itu mungkin tidak dapat menjelaskan prosedurnya (Wiranataputra, 2008:3.16).
Ø  Seorang anak dapat berjalan walaupun belum mengetahui bagaimana seseorang dapat berjalan.
2.      Tahap Ekonik (Semi Konkret)
Berdasarkan pada pikiran internal (Dahar, 2011:78). Pada tahap ini menyatakan bahwa kegiatan anak-anak mulai menyangkut mental yang merupakan gambaran dari objek-objek, dimana seseorang memahami objek-objek melalui gambar-gambar atau visualisasi verbal. Dalam hal ini anak tidak lagi memanipulasi objek secara langsung, melainkan dengan menggunakan gambaran dari objek tersebut.
Contoh: Pada saat pembelajaran matematika materi penjumlahan bilangan cacah, guru memberikan contoh dua mangga ditambah dua mangga. Dalam hal ini guru tidak lagi harus menunjukkan buah mangga secara nyata, akan tetapi bisa juga menggunakan gambar.
3.      Tahap Simbolik (Abstrak)
Berdasarkan pada sistem berpikir abstrak, arbitrer dan lebih fleksibel (Dahar, 2011:78). Dalam tahap ini anak memanipulasi symbol-simbol secara langsung dan tidak ada kaitannya dengan objek-objek.pada tahapan ini anak telah mencapai transisi dari tahap ekonik ke tahap simbolik yang diasarkan pada system berpikir abstrak dan lebih fleksibel. Pada tahapan ini dapat dikatakan bahwa seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa logika. Dalam pemahamannya, seseorang belajar mealui symbol bahasa, logika, matematika dan sebagainya. Komunikasi pada tahapan ini menggunakan banyak system symbol. Walaupun begitu, bukan berarti dalam tahapan ini seseorang masih menggunakan system enaktof dan ikonik.
Contoh: Pada saat pembelajaran matematika materi penjumlahan bilangan cacah, guru tidak lagi memberikan contoh berupa gambar, melainkan sudah menggunakan symbol seperti 1+2 = 3.

Berikut ini merupakan salah satu bentuk teori instruksi dalam matematika yang berupa teorema dalam pembelajaran matematika (Bell, 1981:143). Ada beberapa teorema dalm teori insttruksi matematika ini, antara lain:
a.       Teorema konstruksi
Dalam teorema konstruksi, mengatakan bahwa jalan terbaik untuk siswa untuk memulai belajar konsep matematika, prinsip dan aturan adalah dengan mengkonstruksikan penyajiannya itu sendiri. Pada awal tahapan pembelajaran konsep, pemahaman bergantung pada aktifitas konkrit dimana siswa mengkonstruksi setiap representasi konsep.


b.      Teorema notasi
Dalam teorema nitasi menyatakan bahwa awal dari penyajian dan konstruksi dapat dibuat secara lebih sederhana dan dapat dipahami oleh siswa jika berisi notasi yang mana sesuai dengan tingkat perkembangan mental siswa.
c.       Teorema perbandingan dan variasi
Dalam teorema ini menyatakan bahwa prosedur berasal dari penyajian konsep konkrit  ke penyajian yang lebih abstrak.
d.      Teorema konektifitas
Dalam teorema ini dinyatakan sebagai berikut: tiap konsep, prinsip, dan keterampilan matematika adalah untuk menghubungkan dengan konsep, prinsip, atau keterampilan lain. 


DAFTAR PUSTAKA

Bell, F.H. 1981. Teaching and Learning Mathematics (In Secondary Schools). Dubuque, Iowa: Wm. C. Brown Company.

Bruner, J.S. 1977. The Process of Education. USA: Harvard University Press.

Dahar, R.W. 2011. Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Erlangga.

Kristinsdottir, S.B. 2008. Jerome Bruner. http://mennta.hi.is/starfsfolk/solrunb/jbruner.htm_3.htm. Diakses tanggal 12 Februari 2014.

Wiranataputra, U.S. 2008. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka.