Pengalaman Menginap di Sebuah Hotel di Lembang

Pengalaman Menginap di Sebuah Hotel di Lembang -- Lembang Love Story, Menginap di Hotel Lembang, Serunya Menginap di Sebuah Hotel Lembang, Liburan Seru dan Asyik di Lembang.


Alhamdulillah, menyenangkan sekali selama tiga hari honeymoon di Bandung ini. Apalagi di hari ketiga, kami seharian penuh mengukir cerita indah bertajuk Lembang Love Story.

Banyak keseruan-keseruan yang kami alami mulai dari berangkat pagi hari dari hotel di kawasan Talaga Bodas, kota Bandung, mengunjungi FarmHouse Lembang, lalu rekreasi ke Floating Market Lembang, kemudian asyik menikmati keindahan The Lodge Maribaya sampai ke tempat yang paling dingin yaitu TWA Gunung Tangkuban Perahu.

Setelah seharian bersenang-senang, akhirnya kami harus mengakhiri perjalanan di hari ketiga ini. Oh ya, karena sudah terlanjur mem-booking hotel di Lembang, akhirnya kami mempunyai pengalaman tersendiri menginap di sebuah hotel di Lembang.

Berikut ceritanya...

Setibanya di hotel, petugas resepsionis langsung mengetahui bahwa kami pengunjung yang sudah mem-booking kamar.  Dia langsung menebak nama suamiku. Sementara petugas lainnya, membantu mengangkat koper kami.

Hmm, sepertinya tak banyak yang menginap di hotel ini. Atau mungkin karena hari itu sudah hampir menjelang maghrib, sehingga mungkin hanya kami pengunjung yang baru saja check in, sementara pengunjung yang lain sudah terlebih dahulu check-in siang tadi. Mungkin ya.

"Boleh saya pinjam KTP nya?" Pinta resepsionis.

"Ini, Pak. Saya sudah booking kamar di web travel online." Kata suami sambil menyodorkan KTP nya.

" Iya, Mas satu saja KTP nya gakpapa." Jawab Bapak resepsionis.

"Ini kuncinya Mas, kamarnya ada di lantai dua. Besok sarapannya mulai pukul 7 ya." Kata Bapak resepsionis.

"Baik, makasih ya." Jawab suami.

Lalu kami langsung menaiki satu per satu anak tangga menuju ke kamar. Sama dengan hotel sebelumnya, tidak ada fasilitas lift.

Hotel tempat kami menginap kali ini lokasinya tepat di pinggir jalan, posisinya ada di sebelah kiri bila kita bergerak dari Bandung kota ke Gunung Tangkuban Perahu. Tampak dari luar bangunan putih berkubah.  Klasik seperti namanya. 

Tenyata hotelnya tidak terlalu besar. Hanya terdiri dari dua lantai dengan beberapa kamar tidur. Cukup bersih dan rapi.

Setibanya di kamar, kesannya kamarnya cukup luas dibanding hotel kami di Talaga Bodas kemarin. Di dalamnya terdapat dua buah kasur.  Terlalu luas untuk berdua, cukup untuk empat orang malah. Hehe.

Lalu, bedanya lagi, tidak ada AC disini, kipas angin juga tak terlihat. Tapi itu semua kami rasa tidak perlu. Dingin alami dari Lembang sudah menusuk kulit pun sampai ke kamar kami. 

Ditambah lagi, air hangat di kamar mandinya menyala dengan baik. Segar juga badan rasanya yang sedari tadi kedinginan.

Jadi, secara keseluruhan, kami bersyukur lagi-lagi gak salah booking hotel. Hahaha. Lumayan nyamanlah.

Oh ya, kira-kira lebih mahal 100.000an selisih biaya inap di hotel ini dengan hotel pertama kami loh. Masih terjangkau.

Setelah bersih-bersih, kami menunaikan sholat Maghrib berjamaah. Setelah itu, kami duduk-duduk santai sambil menonton TV.

"Masih susah nemu sinyal lo, Kak. Ga nemu juga driver taksi online sekitar sini. Besok kita pulang ke Bandung gimana?" Keluhku pada suami.

"Hotel ini ada koneksi WIFI, gak ya?" Tanyaku lagi.

"Nanti aja kita tanya di bawah ya sayang, setelah kita pulang cari makan malam." Jawab suamiku.

Sebenarnya banyak mobil angkutan kota / desa yang melintas di depan hotel tempat kami menginap. Tapi kami merasa gak nyaman, karena bebawaan koper. Kalau saja hanya pakai ransel, angkot atau angdes gak masalah. Bahkan tambah seru kali ya, akan jadi cerita baru.

"Kita mau makan dulu apa sholat Isya nih?" Tanya suami.

"Makan dulu aja gimana, Kak? Takut kemaleman, sepi juga disini." Pintaku.

"Oke dek, yok kita ke bawah." Ajak suami.

Pas sekali. Di seberang hotel ini terdapat restoran yang tampak mewah. Eit, tapi kami pilih makan di sebelahnya saja. Hehe. Ada penjual nasi goreng gerobakan. 

Lagi-lagi di sebelah hotel pilihan kami ini ada minimarket dan gerai mesin ATM. Tepat sasaran. Ambil uang tambahan, jajan dan makan malam. Wkwk. 

Iya, kok ambil uang lagi? Yuhuu, perjalanan seharian mengunjungi beberapa tempat wisata di Lembang tadi, cukup menguras kantong, ambil dikit lagi lah buat pegangan, jaga-jaga aja.

Alhamdulillah setelah makan malam, kami segera pulang ke hotel. Sebab jalanan terlihat lengang. Dan malam semakin dingin.

Setelah tiba di kamar, eh kami lupa untuk menanyakan ada tidaknya WIFI. Hadeh.

Karena malas untuk turun ke lantai pertama, ya jadinya, kami sepakat besok sajalah urusan mencari sinyal, mencari angkutan ke Bandung kota. Malam ini, saatnya berduaan menikmati suasana malam Lembang.

Nyantai di kasur, nonton TV, cerita-cerita kejadian lucu dan unik hasil jalan-jalan tadi. Ngelihat hasil foto-foto. Dan tak lupa sholat Isya.

Semalaman penuh TV di kamar kami menyala. Kami ketiduran. Hihi. Mungkin kecapean.

Dini hari suhu udara makin dingin. Sewaktu Subuh, harus kuat melawan dingin untuk berwudhu. Apalagi mandi, maleees. Hehe.

Tok. Tok. Tok.
"Permisi." Terdengar ada yang mengetuk pintu kamar.

"Maaf mengganggu Mas. Ini kami antarkan sarapan, karena kami lihat hampir pukul delapan tapi Mas belum  turun ke tempat sarapan." Kata petugas hotel.

"Oh iya Pak, nuhun." Ujar suami.

"Wah enak banget ya Kak. Sarapan dianterin gini." Kataku.

Saat itu jam tujuh lewat kami belum siap untuk turun mengambil sarapan. Kami juga lupa, semalam Bapak resepsionis ngomong apa ya tentang sarapan. Sayup-sayup terdengar seperti menawarkan pilihan untuk sarapan.

Eh ternyata saat lagi santai-santainya nonton TV. Kedinginan di balik selimut, ada yang mengetuk pintu.

Alhamdulillah rezeki pagi-pagi dianterin sarapan.

Yap, kita makan nasi goreng lagi. Hahaha.

Setelah sarapan, aku mencoba membuka jendela kamar. Kami berdiri di balkon, tidak ada pemandangan khusus, hanya ada rumah-rumah penduduk. Mentari pagi mulai sedikit bersinar.

Waktu hampir menunjukkan pukul sembilan. Kami menyerah. Akhirnya kami memutuskan untuk menelepon kang Sopir kemarin untuk menjemput kami. 

200 ribu rupiah harus dikeluarkan untuk ongkos menjemput kami dari hotel Lembang ke hotel di kawasan kota Bandung lagi.

Dua jam lagi Kang sopir tiba di hotel ini. Masih ada waktu untuk booking hotel baru di Bandung. 

Karena tak punya waktu banyak untuk baca-baca review hotel, jadi la aku menawarkan ke suamiku untuk booking hotel yang sama dengan hotel sewaktu aku berlibur ke Bali sebulan yang lalu, di sela-sela persiapan pernikahan kami.

Suamipun setuju. Dengan kisaran harga lebih mahal 100 ribuan dari hotel di Lembang ini, kami booking sebuah hotel di kawasan Braga, kota Bandung dengan kekuatan sinyal seadanya. Hahaha.

Selanjutnya aku bersiap packing lagi. Mandi. Lalu menunggu jemputan Kang sopir.

Alhamdulillah. Begitulah cerita pengalaman kami menginap semalam di sebuah hotel di Lembang. Nyaman. Dingin. Strategis.  Lengkap sudah kisah Lembang Love Story ini.

Lanjut ceritanya, hari ke-4 Honeymoon ke Bandung "Cerita di Bandung Zoo dan Berburu Oleh-oleh"